KORAN INDONESIA – Meski makanan pokok di Indonesia bukanlah roti. Namun, roti sudah menjadi makanan pokok yang mendunia.
Sekilas, roti di Indonesia dan luar negeri tampak serupa. Tetapi, bahan-bahan yang digunakannya cukup berbeda, baik dari jenis tepung, maupun bahan tambahannya.
Sampai, pengaruh budaya lokal pun memunculkan perbedaan lain seperti cita rasa, tekstur, dan kandungan gizi apa yang harus ada pada roti yang dibuat.
1. Jenis Tepung yang Digunakan
Di Indonesia, kebanyakan roti menggunakan tepung terigu berprotein sedang sehingga menghasilkan tekstur roti yang lebih lembut dan empuk.
Di luar negeri, terutama di negara-negara Barat seperti Prancis atau Jerman, jenis tepung yang banyak digunakan adalah tepung roti berprotein tinggi sehingga roti yang dihasilkan bertekstur lebih padat dan chewy, seperti baguette atau sourdough.
Bahkan, di beberapa negara Eropa Timur lebih banyak menggunakan tepung gandum utuh (whole wheat) atau tepung rye (gandum hitam) agar roti lebih berserat dan berat.
2. Bahan Tambahan
Roti di Indonesia sering kali diperkaya dengan bahan tambahan seperti:
- Susu bubuk
- Gula
- Mentega atau margarin
- Telur
Tujuannya, agar menghasilkan roti yang manis, lembut, dan beraroma harum. Contohnya adalah roti manis berisi cokelat, keju, atau abon yang populer dijual di toko-toko roti lokal.
Di luar negeri, terutama yang berjenis roti tradisional seperti sourdough, bahan tambahannya sangat minimal dan biasanya hanya terdiri dari:
- Tepung
- Air
- Garam
- Ragi alami (starter)
Bahkan, beberapa jenis roti seperti roti Prancis tidak menggunakan gula sama sekali sehingga rasa rotinya lebih “natural” dan bertekstur lebih renyah di luar dan kenyal di dalam.
3. Teknik Pengolahan
Di Indonesia, adonan roti biasanya akan difermentasi dalam waktu yang relatif singkat, yakni sekitar 1–2 jam agar produksinya lebih efisien. Sehingga, dari proses tersebut akan menghasilkan roti yang lebih cepat dibuat namun memiliki rasa yang kurang kompleks.
Di luar negeri, terutama pada pembuatan artisan bread, proses fermentasi bisa memakan waktu 12–48 jam, bahkan lebih. Fermentasi lambat ini dapat memberikan rasa asam alami (khususnya pada sourdough), meningkatkan daya cerna dan memperkaya aroma roti.
4. Pengaruh Budaya Lokal
Di Indonesia, roti lebih dianggap sebagai camilan atau makanan pelengkap sehingga cenderung berukuran kecil dan manis.
Sebaliknya, di banyak negara Barat, roti adalah makanan pokok sehingga lebih disukai yang besar, tahan lama dan tidak terlalu manis agar bisa dikombinasikan dengan hidangan-hidangan lain.