KORAN INDONESIA – Penyanyi country Carly Pearce baru-baru ini mengungkap sisi lain dari hidupnya yang selama ini jarang diketahui publik.
Dalam episode podcast Dumb Blonde yang tayang Senin, 25 Agustus, ia bercerita tentang perjuangannya menghadapi gangguan kecemasan dan OCD (obsessive-compulsive disorder) sejak masa kecil.
Awalnya, perempuan berusia 35 tahun ini mengira gangguan cemasnya baru muncul saat masa perceraian di tengah pandemi COVID-19.
“Saya akan bilang, mungkin tiga tahun lalu, kecemasan saya dimulai saat perceraian saya di masa COVID,” kata Carly dalam podcast yang dipandu Bunnie Xo.
Seperti diketahui, pernikahan Carly dengan Michael Ray hanya bertahan dari 2019 hingga 2020.
Namun ternyata, ia menyadari bahwa gejala OCD sudah muncul sejak ia masih kecil.
“Tapi saya sudah punya OCD yang parah sejak kecil. Seperti memeriksa isi tas saya berulang-ulang, mengecek alarm berulang-ulang,” lanjutnya.
Penyanyi lagu Every Little Thing itu juga mengaku sering kali merasa harus memastikan semua barang ada di dalam tas, tak boleh ada yang tertinggal. Saat terjadi badai, ibunya bahkan sampai membawanya ke perpustakaan untuk bertemu ahli cuaca agar bisa menenangkannya.
“Saya ingat ibu saya membawa saya ke perpustakaan untuk bertemu meteorolog demi menenangkan saya. Jadi, saya sudah punya kecemasan sepanjang hidup saya. Saya masih berjuang melawan OCD,” jelasnya.
Carly mengatakan bahwa pandemi COVID menjadi titik balik dalam hidupnya.
“Saya rasa saat itu saya benar-benar merasa ingin melakukan sesuatu tentang ini,” katanya, setelah sebelumnya mencoba menahan perasaannya sendiri.
Bunnie Xo, sang host, juga membagikan pengalaman pribadinya dalam menghadapi masalah kesehatan mental. Ia mengaku pernah mengalami masa kelam setelah melepas implan payudaranya pada 2019.
“Saya mengalami ide bunuh diri dan depresi terparah sepanjang hidup saya,” ujarnya.
“Saat itu tubuh saya seperti bilang, kamu tidak bisa terus lari. Kamu bisa coba atasi dengan operasi ini-itu, tapi kalau kamu tidak menyembuhkan apa yang ada di dalam hati dan jiwa, itu akan keluar dalam bentuk lain,” tambah Bunnie.
Bagi Carly, masa perceraian dan terpaksa berhenti tampil di atas panggung membuat tubuhnya ikut bereaksi.
“Saya rasa tubuh saya bereaksi secara fisik, seperti, ‘Oh Tuhan.’ Dan saya… saya nggak bisa bilang sudah berapa banyak wawancara yang saya jalani sambil berusaha keras tetap terlihat kuat,” kenangnya.
“Ini seperti perjalanan panjang buat saya,” tambahnya.
Lewat terapi, Carly pun akhirnya menyadari bahwa gangguan yang ia alami sudah ada sejak lama.
“Itu sudah ada sejak saya umur enam atau tujuh tahun,” katanya.
Meski tidak sepenuhnya menyalahkan sang ibu, Carly mengakui bahwa cara ia dibesarkan mungkin punya dampak besar terhadap kesehatan mentalnya.
“Ibu saya, sampai sekarang masih seperti itu. Dia yang terbaik, tapi dia perfeksionis,” ungkapnya.
Carly juga menceritakan satu kenangan masa kecil yang membekas, saat ia harus menyusun sepatu Barbie-nya dengan posisi yang sangat spesifik.
“Saya belajar dari situ. Dia nggak pernah keluar rumah tanpa make-up, selalu tampil rapi. Perfeksionisme itu jadi kebiasaan saya. Bukan karena dia memaksa saya begitu, tapi karena saya melihat dan mengikuti contoh,” ujarnya.
Kini, Carly terus menjalani proses pemulihan, sambil tetap berkarya. Album terbarunya, Hummingbird, resmi dirilis pada Juni 2024 lalu.***
Baca juga: Bawa Pesan Kuat, Bring Me The Horizon Kibarkan Bendera Palestina di Panggung Reading Festival 2025