KORAN INDONESIA – Mahasiswa Teknik Industri Pertanian, Departemen Teknology Industri Pertanian IPB University menggelar Expo dan Kompetisi Desain Keteknikan Agromaritim Berkelanjutan. Acara tersebut secara resmi dibuka oleh Ketua Departemen Teknology Industri Pertanian IPB, Prof. Ir. Ono Suparno STP, MT, Ph.D,IPM, CIIQA pada Kamis, 28 Agustus 2025.
Diketahui, acara Expo dan Kompetisi Desain Keteknikan Agromaritim Berkelanjutan akan berlangsung selama tiga hari, mulai 28 – 30 Agustus 2025 di lantai 2 Koridor Fateta Kampus IPB Dramaga.
Pada pembukaan Expo dan Kompetisi Desain Keteknikan Agromaritim Berkelanjutan yang diselenggarakan Mahasiswa Teknik Industri Pertanian, Departemen Agricutural Enginneering dan Teknologi, menghadirkan nara sumber Prof. Dr. Ir. Tajuddin Bantacut, M.Sc.
Prof. Ir. Ono Suparno, Ketua Departemen Teknology Industri Pertanian IPB University mengatakan bahwa hari ini pihaknya mengadakan Expo dan Kompetisi Desain Keteknikan Agromaritim Berkelanjutan, ini diselenggarakan oleh Departemen Teknologi Industri Pertanian Fateta IPB bekerjasama dengan Sekolah Pasca Sarjana IPB.
Baca juga : Wali Kota Bogor Panen Perdana Pisang Barangan Jumbo Merah, di Demplot PT MBI Taman Tanah Sareal Bogor
“Dalam Expo ini, Kami memamerkan tugas akhir dari mahasiswa Program studi (prodi) Teknology Industri Pertanian (TIN) tahun 2025, ada 39 judul tugas akhir, 10 diantaranya dilombakan,” Kata Prof Ir Ono Suparno kepada koranindonesia.net.
Selanjutnya, Prof Ono Suparno mengungkapkan bahwa Expo dan Kompetisi Desain Keteknikan Agromaritim Berkelanjutan dilakukan oleh mahasiswa IPB University angkatan 58.
“Dan tujuan expo ini memamerkan hasil karya mereka dalam menjalankan tugas akhir secara berkelompok selama enam bulan, setelah bekerjasama dengan para mitranya masing – masing diantaranya UMKM dan Industri,”ujarnya.
Pihaknya berharap expo ini menjadi contoh dan informasi bagi mahasiswa adik angkatan kelasnya, karena mereka pun pasti akan menjalani hal serupa pada saatnya nanti ketika sudah memasuki semester akhir.
Selain itu, Prof Ono Suparno juga berharap ada mitra – mitra baru yang bergabung, yang memiliki permasalahan terkait pengembangan usahanya, sehingga bisa dikerjasamakan dengan mahasiswa Teknology Industri Pertanian (TIN).
“Semoga di tahun depan ada Mitra Industri yang bergabung, yang memiliki permasalahan yang bisa dikembangkan, dikerjasamakan dengan TIN dalam bentuk tugas akhir yang nantinya bagi mitra ada solusi permasalahannya, untuk pengembangan usahanya dan sebagainya, dari mulai management, proses maupun lingkungannya. Dan bagi mahasiswa ini merupakan tugas akhir yang kita sebut Capstone Projek,”ujar Prof Ono Suparno.
Caption foto : Ketua Departemen Teknology Industri Pertanian IPB, Prof. Ir. Ono Suparno STP, MT, Ph.D,IPM, CIIQA saat memberikan keterangan pers kepada koranindonesia.net/Asop/koranindonesia.net
Sementara itu, Prof. Dr. Ir. Tajuddin Bantacut, M.Sc usai memberikan pembekalan kepada mahasiswa mengatakan bahwa Teknologi Industri mampu menghasilkan kontribusi dalam bentuk mentranspormasikan secara umum pertanian menjadi industri berbasis pertanian, itu yang pertama.
Lalu yang ke dua dihubungkan melalui kegiatan pembentukan nilai tambah. Yang selama ini menghasilkan komoditas. “Kita harus berkontribusi bagaimana komoditas ini menghasilkan produk – produk yang nilainya lebih tinggi, sehingga setiap pelaku menjadi mata rantai mendapatkan nilai kemanfaatan yang lebih baik,”katanya.
Menurut Prof Tajuddin hanya dengan cara itu bisa memperbaiki pertanian di negeri ini, kalau tidak maka petani akan selamanya miskin, karena lahannya kecil, nilai produk komoditasnya kecil. Apabila mereka lanjut dia, dilibatkan atau diberikan teknology pengolahan sehingga semakin hilir semakin panjang.
Kemudian ia mencontohkan dari minyak sirih menjadi kosmetik, dari 1 liter minyak sirih harganya mungkin Rp 500 ribu, bisa menghasilkan Rp 1 juta hingga Rp 3 juta per 100 mili, nah itulah yang seharusnya dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah sektor pertanian dan menambah kesejahteraan para pelakunya.
Salah satu mahasiswa Alumni Teknology Industri Pertanian IPB University, Juan Rifai Dwianggoro menuturkan dari 39 judul tugas akhir salah satunya adalah milik kelompoknya dengan judul Desain Proses dan Produk Sayur Frozen di ATP Pasir Sarongge.
Dalam kesempatan itu Juan menjelaskan singkat proses pengemasan frozen sayur – sayuran jenis Jagung, Brokoli dan Kentang, sebelum dijadikan prozen terlebih dahulu melalu proses perebusan dan hasil thawing saat dikemas akan menyerupai warna segar aslinya.
Baca juga : Darka Wardana dan 3 Atlet Padepokan Silat Tjimande desa Cikarawang Bogor Juara Nasional Kemendagri Cup
“Selain menyerupai warna segar aslinya yang menarik, juga memiliki masa expired yang cukup lama yakni sekitar 2 tahun lebih jika disimpan pada suhu minus 18 derajat sesuai SOP,”katanya.
Sementara itu, koordinator penyelenggara Expo dan Kompetisi Desain Keteknikan Agromaritim Berkelanjutan, Lisa Anggraini menjelaskan bahwa kegiatan expo yang berlangsung selama 3 hari ke depan dan dimulai hari ini merupakan tugas akhir dari mahasiswa semester akhir.
“Kami berharap expo ini berjalan lancar dan hasil karya dan kerja keras mereka selama ini kita tampilkan dalam expo ini, dan semoga ini menjadi inspirasi untuk adik – adik angkatannya, dan juga menjadi referensi bagi dunia usaha khususnya Agroindustri,”pungkasnya.***