Mengenal PPOK: Penyakit Paru Kronis yang Harus Diwaspadai

Ilustrasi sakit paru
Bagikan

KORAN INDONESIA – Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) adalah gangguan pada paru-paru yang berlangsung lama akibat kerusakan di organ pernapasan. Kondisi ini menyebabkan peradangan pada saluran udara sehingga aliran napas menjadi terhambat.

Melansir Mayo Clinic, penderita PPOK biasanya mengalami sesak napas, batuk terus-menerus dengan dahak, hingga bunyi mengi saat bernapas. Penyebab utamanya ialah paparan jangka panjang asap rokok, debu, uap, atau bahan kimia.

Jenis PPOK

Dua jenis PPOK yang paling umum adalah bronkitis kronis dan emfisema. Keduanya sering muncul bersamaan dengan tingkat keparahan yang berbeda pada setiap orang.

Bronkitis kronis terjadi ketika dinding saluran udara (bronkus) meradang dan menghasilkan dahak berlebih. Sementara itu, emfisema merusak kantung udara kecil di paru-paru (alveoli) sehingga pasokan oksigen ke darah berkurang.

Apakah Bisa Diobati?

PPOK memang bisa makin parah seiring waktu, namun tetap bisa ditangani. Dengan pengelolaan yang tepat, penderita dapat mengendalikan gejala dan meningkatkan kualitas hidup.

Penanganan yang baik juga bisa menurunkan risiko penyakit lain yang berkaitan, seperti penyakit jantung dan kanker paru.

Gejala PPOK

Gejala PPOK biasanya baru terasa setelah kerusakan paru cukup parah. Kondisi ini juga cenderung memburuk jika penderita terus terpapar asap rokok atau polusi.

Gejala umum PPOK meliputi:

  • Sesak napas, terutama saat beraktivitas.

  • Bunyi mengi atau siulan saat bernapas.

  • Batuk berkepanjangan dengan dahak, bisa bening, putih, kuning, atau hijau.

  • Dada terasa sesak atau berat.

  • Mudah lelah atau kurang energi.

  • Infeksi paru berulang.

  • Berat badan turun tanpa sebab jelas.

  • Kaki, pergelangan, atau tungkai bengkak.

Kondisi Gejala Memburuk (Eksaserbasi)

Penderita PPOK bisa mengalami masa gejala yang lebih parah dari biasanya, disebut eksaserbasi. Kondisi ini dapat berlangsung beberapa hari hingga minggu.

Penyebab eksaserbasi bisa berupa udara dingin, polusi, bau menyengat, pilek, atau infeksi. Gejala eksaserbasi antara lain:

  • Napas lebih sulit dari biasanya.

  • Dada makin sesak.

  • Batuk lebih sering.

  • Dahak lebih banyak atau berubah warna dan teksturnya.

  • Demam.

Segera temui dokter jika gejala tidak membaik meski sudah diobati, atau malah semakin parah. Periksa juga bila muncul tanda infeksi, seperti demam atau perubahan warna dahak.

Bila mengalami kesulitan bernapas yang parah, bibir atau kuku membiru, jantung berdebar cepat, atau merasa linglung, segera ke IGD rumah sakit terdekat. Semoga bermanfaat.***

Baca jugaMengenal Morfologi Sperma dan Dampaknya pada Kehamilan

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top