KORAN INDONESIA – Buat kamu yang punya motor, istilah “turun mesin” mungkin jadi salah satu hal yang paling ditakuti. Soalnya, kalau motor sampai masuk bengkel karena turun mesin, itu tandanya ada kerusakan serius di bagian dalam mesin.
Proses perbaikannya pun nggak main-main, butuh waktu lama dan biaya yang bisa bikin dompet jebol.
Turun mesin atau overhaul biasanya berarti seluruh bagian mesin dibongkar untuk mengganti atau memperbaiki komponen yang rusak. Nah, biar kamu nggak mengalami hal ini, yuk pahami beberapa penyebab umum motor bisa sampai turun mesin.
- Telat Ganti Oli
Oli itu ibarat darah buat mesin motor. Tugasnya nggak cuma melumasi, tapi juga bantu bersihin kotoran dan partikel logam hasil gesekan. Tapi, seiring waktu, kualitas oli bisa turun karena terkena panas terus-menerus dan tercampur kotoran.
Kalau kamu telat ganti oli, pelumasan jadi nggak maksimal. Akibatnya, piston, ring piston, dan komponen penting lainnya bisa aus bahkan macet. Ini bisa memicu kerusakan yang ujung-ujungnya bikin motor turun mesin.
Idealnya, oli diganti tiap 2.000-4.000 km, tergantung jenis oli dan rekomendasi pabrik.
- Malas Servis Rutin
Servis motor itu bukan cuma soal ganti oli, tapi juga ngecek kondisi keseluruhan motor. Misalnya, filter udara yang kotor bisa bikin aliran udara ke ruang bakar terganggu. Atau busi aus bisa bikin pembakaran nggak sempurna.
Kalau servis rutin sering dilewatkan, masalah kecil bisa numpuk jadi kerusakan besar. Jadi, mending luangkan waktu sejenak ke bengkel daripada harus bayar mahal nanti.
- Sering Nekat Nerjang Banjir
Motor memang bisa diajak nyebur genangan, tapi sering-sering nerjang banjir bukan pilihan bijak. Air bisa masuk lewat celah-celah kecil di mesin, mulai dari karburator, filter udara, bahkan seal yang udah aus.
Kalau air sampai masuk ke ruang mesin dan bercampur dengan oli, pelumasan jadi kacau. Lebih parah lagi, bisa terjadi hydro lock (kondisi di mana air masuk ke ruang bakar dan bikin mesin terkunci).
Gejalanya nggak langsung terasa, tapi seiring waktu, bisa bikin suara mesin kasar, performa menurun, atau bahkan mesin mati total.
- Air Radiator Nggak Pernah Diganti
Buat motor dengan pendingin cair, air radiator punya peran penting menjaga suhu mesin tetap stabil. Kalau nggak pernah diganti, cairannya bisa kotor atau berkarat dan bikin sistem pendingin tersumbat.
Akibatnya? Mesin bisa overheat. Kalau sudah begini, silinder bisa melengkung, ring piston mengeras, dan ujung-ujungnya turun mesin juga.
Sebaiknya, ganti air radiator setahun sekali atau setiap 10.000 km. Gunakan cairan yang sesuai rekomendasi pabrik, ya.
- Mesin Dimodifikasi Sembarangan
Banyak orang suka modif motor biar makin kencang, misalnya bore up atau stroke up. Tapi, kalau modifikasi dilakukan asal-asalan tanpa ganti komponen pendukung yang sesuai, justru bisa bikin mesin cepat rusak.
Contohnya, memperbesar silinder tapi tetap pakai piston standar, atau nggak memperkuat sistem pendingin. Komponen seperti crankshaft, ring piston, dan connecting rod bisa kewalahan menanggung beban yang lebih besar dari kapasitasnya.
Kalau memang ingin modifikasi, pastikan dilakukan di bengkel terpercaya dan semua sistem penunjang ikut disesuaikan. Jangan cuma ngejar tenaga besar, tapi lupa soal ketahanan mesin.
- Cara Berkendara yang Kasar
Kebiasaan buruk saat naik motor juga bisa bikin mesin cepat rusak. Misalnya, sering narik gas mendadak, geber motor saat mesin masih dingin, atau suka ngebut di jalan rusak.
Gas yang digeber pas mesin belum panas bikin oli belum sempat menyebar sempurna. Akibatnya, komponen bergesekan tanpa pelumas yang cukup. Kalau terus-terusan, komponen vital bisa cepat aus.
Turun mesin bisa dengan mudah untuk kita cegah. Kunci utamanya adalah rawat motor secara rutin, jangan telat ganti oli, dan hindari kebiasaan berkendara yang merusak mesin. Lebih baik repot sedikit dan keluar biaya kecil secara berkala, daripada harus bayar mahal untuk perbaikan besar di kemudian hari.***
Baca juga: Daihatsu Indonesia Cetak 9 Juta Unit, Bukti Jadi Raja Otomotif Nasional