KORAN INDONESIA – Migrain bukan sekadar sakit kepala biasa. Rasa nyeri yang muncul bisa berdenyut atau bergetar di satu sisi kepala, bahkan sampai mengganggu aktivitas harian.
Melansir Mayo Clinic, biasanya, migrain disertai mual, muntah, serta sensitif terhadap cahaya dan suara. Serangannya bisa berlangsung berjam-jam hingga berhari-hari.
Bagi sebagian orang, ada gejala peringatan yang disebut aura. Aura bisa berupa gangguan penglihatan, seperti kilatan cahaya, titik buta, atau sensasi kesemutan di wajah maupun anggota tubuh.
Obat dapat membantu mencegah dan meredakan migrain. Namun, perubahan gaya hidup juga penting untuk mengurangi frekuensinya.
Tahapan Migrain
Migrain bisa dialami anak-anak hingga orang dewasa. Tidak semua orang melalui tahapan ini, tetapi umumnya terbagi menjadi empat fase: prodrome, aura, serangan, dan postdrome.
Prodrome
Muncul 1-2 hari sebelum migrain. Tanda-tandanya bisa berupa:
-
Sulit buang air besar.
-
Perubahan suasana hati.
-
Ngidam makanan tertentu.
-
Leher kaku.
-
Sering buang air kecil.
-
Tubuh menahan cairan.
-
Sering menguap.
Aura
Gejala ini bisa datang sebelum atau saat migrain. Biasanya terkait sistem saraf, terutama penglihatan.
Contohnya:
-
Melihat bentuk, kilatan, atau cahaya terang.
-
Kehilangan penglihatan sementara.
-
Rasa kesemutan di tangan atau kaki.
-
Wajah mati rasa atau lemah.
-
Kesulitan berbicara.
Serangan
Jika tidak diobati, migrain bisa berlangsung 4-72 jam. Frekuensinya berbeda pada setiap orang.
Gejala saat serangan meliputi:
-
Nyeri di satu sisi kepala atau bisa juga dua sisi.
-
Rasa berdenyut.
-
Sensitif pada cahaya, suara, bahkan bau.
-
Mual hingga muntah.
Postdrome
Setelah migrain reda, tubuh bisa terasa lelah atau bingung hingga seharian. Beberapa orang justru merasa sangat senang, tetapi rasa sakit bisa kembali jika kepala digerakkan mendadak.
Kapan Harus ke Dokter?
Migrain sering tidak terdiagnosis. Jika Anda mengalami sakit kepala berulang, catat polanya lalu diskusikan dengan dokter.
Segera ke dokter jika pola sakit kepala berubah, atau terasa berbeda dari biasanya. Jika ada gejala serius, segera ke IGD, seperti:
-
Sakit kepala mendadak dan sangat parah.
-
Disertai demam, leher kaku, bingung, kejang, penglihatan ganda, atau tubuh mati rasa.
-
Muncul setelah cedera kepala.
-
Sakit kepala makin parah saat batuk, mengejan, atau bergerak.
-
Sakit kepala baru muncul setelah usia 50 tahun.
Penyebab Migrain
Penyebab pasti migrain belum sepenuhnya dipahami. Namun, faktor genetik dan lingkungan punya peran besar.
Perubahan di batang otak serta ketidakseimbangan zat kimia otak, seperti serotonin, diduga memicu migrain. Senyawa lain seperti CGRP juga ikut berpengaruh pada rasa sakit.
Pemicu Migrain
Ada banyak hal yang bisa memicu migrain, misalnya:
-
Hormon: Perubahan estrogen saat menstruasi, hamil, atau menopause.
-
Makanan & minuman: Alkohol, kafein, keju tua, makanan asin, hingga MSG.
-
Stres: Baik dari pekerjaan maupun rumah tangga.
-
Rangsangan sensorik: Cahaya terang, suara keras, atau bau tajam.
-
Tidur: Kurang tidur atau justru tidur terlalu lama.
-
Aktivitas fisik: Olahraga berat hingga aktivitas seksual.
-
Cuaca: Perubahan tekanan udara atau iklim.
-
Obat-obatan: Kontrasepsi oral atau obat pelebar pembuluh darah.
Faktor Risiko
Beberapa hal membuat seseorang lebih rentan mengalami migrain, yaitu:
-
Riwayat keluarga: Memiliki anggota keluarga dengan migrain.
-
Usia: Umumnya muncul sejak remaja, puncaknya di usia 30-an, lalu berkurang seiring bertambahnya umur.
-
Jenis kelamin: Perempuan tiga kali lebih berisiko dibanding laki-laki.
-
Perubahan hormon: Sering dipicu sebelum menstruasi, saat hamil, atau menjelang menopause.
Komplikasi
Perlu diingat, salah satu komplikasi adalah sakit kepala karena terlalu sering minum obat pereda nyeri. Kondisi ini bisa memperburuk migrain.
Dengan mengenali gejala dan pemicunya sejak dini, migrain bisa lebih mudah dikendalikan sehingga tidak lagi mengganggu aktivitas sehari-hari.***
Baca juga: Mengenal Infeksi Cacing Gelang Ascariasis: Penyebab Kematian Balita di Sukabumi