BANDUNG, KORAN INDONESIA – Bila Anda sering mengonsumsi hiburan bergenre thriller maka tidak akan merasa asing dengan istilah psikopat, meski di dunia nyata tidak semua psikopat adalah pelaku kejahatan.
Biasanya, istilah psikopat digunakan untuk menggambarkan seseorang yang memiliki perilaku manipulatif, tidak memiliki empati serta cenderung antisosial.
Dalam ilmu psikologi klinis, kebanyakan dari psikopat hampir selalu memenuhi kriteria Antisocial Personality Disorder (ASPD) meski tidak semua individu yang memiliki ASDP memiliki ciri-ciri psikopatik.
Perbedaan Struktur Otak
Sejumlah studi dalam bidang neuroscience yang menggunakan MRI dan fMRI menemukan beberapa ciri khas yang dimiliki oleh seorang psikopat:
1. Amygdala lebih kecil atau kurang aktif
Amygdala adalah pusat dalam mengolah emosi, terutama rasa takut dan empati. Pada psikopat ditemukan:
- lebih kecilnya volume amygdala jika dibandingkan dengan manusia pada umumnya.
- lebih rendahnya aktivitas amygdala saat melihat atau mencerna ekspresi-ekspresi emosional orang lain.
Hal ini menjelaskan mengapa psikopat tidak merasakan ketakutan yang dialami kebanyakan orang dan memiliki kesulitan dalam berempati.
2. Kerusakan atau disfungsi pada korteks prefrontal
Korteks prefrontal (PFC) berperan dalam:
- mengendalikan impuls
- mengambil keputusan
- kesadaran moral
- kemampuan dalam membentuk perilaku
Pada psikopat, bagian ini sering menunjukkan:
- Aktivitas yang menurun
- Konektivitas dengan amygdala yang terganggu.
Kondisi ini membuat mereka lebih banyak mengambil keputusan yang bersifat impulsif karena tidak mempertimbangkan konsekuensi dan kurangnya rasa bersalah yang dimiliki.
3. Gangguan konektivitas antarbagian otak
Hubungan antara ventromedial prefrontal cortex (vmPFC) dan amygdala memengaruhi empati serta penilaian moral.
Pada psikopat, koneksi ini terdeteksi lebih lemah sehingga mereka mampu memahami konsep moral secara kognitif, namun tidak merasakan nilai emosional dari moral tersebut.
Perbedaan Fungsi Otak
Selain struktur, fungsi otak mereka juga berbeda:
1. Berkurangnya respons saat menghadapi emosi negatif
Ketika melihat gambar yang berbau kekerasan maupun situasi menakutkan, otak psikopat menunjukkan respons yang jauh lebih lemah.
Akibatnya, mereka tidak mudah takut, sulit mengalami stres dan lebih berani dalam mengambil risiko.
2. Aktivitas yang lebih tinggi pada pusat reward
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pusat penghargaan (reward center) yang dimiliki oleh mereka justru sangat aktif ketika mengejar tujuan tertentu.
Ini menjelaskan sifat manipulatif serta kecenderungan mereka dalam melakukan tindakan yang berisiko demi keuntungan pribadi.
3. Faktor Genetik dan Lingkungan
Psikopati bukan hanya masalah otak tetapi juga terbentuk dari kombinasi faktor-faktor:
- Genetik
Ada gen yang berkaitan dengan regulasi dopamin/serotonin dan mempengaruhi impulsivitas dan agresi. Namun, tidak ada gen psikopat yang bersifat tunggal.
- Lingkungan masa kecil
Kekerasan, pengabaian, kurangnya kasih sayang, atau pola asuh yang keliru dapat mengaktifkan predisposisi genetik ini.
- Interaksi keduanya
Umumnya, psikopati muncul dari interaksi yang timbul antara faktor genetik dan pengalaman hidup.



