Bumdes Abdi Mandiri Cimanggu I Cibungbulang Bogor Sukses Tanam Pisang Barangan Jumbo Merah, 7 Bulan Sudah Jantungan

Bagikan

BOGOR, KORAN INDONESIA – Program ketahanan pangan (Ketapang) desa Cimanggu I Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor yang dikelola Bumdes Abdi Mandiri dan dibiayai dari Dana Desa (DD) Tahun 2025 sebesar 20% direalisasikan kepada budidaya pisang barangan Jumbo Merah bekerja sama dengan PT Mandiri Banana Indonesia (MBI).

Ketua Bumdes Abdi Mandiri, Martin Supriatin saat dikonfirmasi via telepon mengatakan bahwa benar sekali program ketahanan pangan desa Cimanggu I, pihaknya merealisasikan pada budidaya pisang barangan jumbo merah dengan menjalin kerjasama dengan PT MBI.

Lokasi penanaman pohon pisang barangan lanjut Martin, yaitu di Kp Jatake RT 03 RW 07 desa Cimanggu I Kecamatan Cibungbulang, dengan luas lahan 2 hektar.

“Dari luas lahan 2 hektar kami baru tanam pohon pisang barangan di lahan satu hektar sebanyak 800 pohon, dan di tahun 2026 target kami lahan yang ada akan kami tanami pisang secara keseluruhan,” Kata Martin Senin, 16/12/2025.

Penanaman Perdana

Penanaman Perdana pohon pisang barangan jumbo merah itu pada bulan Mei 2025, dan Alhamdulillah sampai saat ini baru berjalan 7 bulan sudah ada beberapa pohon pisang yang keluar jantung.

“Iya mungkin karena faktor cuaca dan tingkat kesuburan tanah serta pupuk yang cukup, usia tujuh bulan sudah ada beberapa yang keluar jantung, ini lebih cepat dari perkiraan sebelumnya yakni 8 sampai 9 bulan jantungan,” ucap Martin.

Akta lahir Jantung Pisang

Sesuai arahan dari PT MBI setiap pohon pisang yang keluar jantung diberikan akta lahir, Ini lahir perdana tanggal 05 Desember 2025 keluar jantung, lalu ditambah 105 hari, pisang baru boleh dipanen.

“Jadi dengan kata lain kami bisa memanen pohon pisang yang sudah berbuah itu dalam usia 10 bulan, lebih cepat 1 bulan dari perkiraan sebelumnya yakni 11 bulan sejak masa tanam,”kata Martin lagi.

Anakan pisang Barangan

Selanjutnya kata Martin terkait anakan pisang sesuai SOP dari PT MBI setiap indukan itu hanya dua anakan yang harus dipertahankan untuk generasi lanjutan. Namun lagi lagi tingkat kesuburan tanah di Jatake ini satu indukan memiliki anakan ada yang sampai 12 pohon.

“Karena banyaknya anakan pohon pisang yang muncul kemungkinan untuk tanam satu hektar berikutnya bisa dinam dari bibit anakan generasi pertama, sehingga kalaupun harus beli bibit tidak sebanyak generasi pertama,”tegasnya.

Tanaman Tumpangsari

Dari sejak masa tanam pisang barangan, pihaknya juga menerapkan tanaman Tumpangsari yakni tanam sayuran bayam dan kangkung. Tanaman sayuran ini panennya cepat hanya 23 hari sekali panen.

“Setiap kali panen hasilnya sekitar 500 ikat kangkung dan bayam itu ada, dijual ke pasar dan hasilnya digunakan untuk upah petani,”kata dia.

Sistem tumpangsari ini hanya bisa dilakukan selama lima bulan, setelah pohon pisangnya besar daunnya lebat tanaman bayam dan kangkung tidak bisa lagi ditanam, jadi teduh, sementara tanaman tersebut butuh sinar matahari langsung.

Modal Awal Budidaya pisang Barangan

“Anggaran dana desa yang kami gunakan untuk usaha budidaya pisang barangan itu sebesar Rp 156 juta,” ujarnya.

Adapun anggaran tersebut digunakan untuk biaya – biaya sebagai berikut ;

  • Pembelian bibit pohon pisang sebanyak 800 pohon
  • Pembelian pupuk
  • Sewa lahan seluas 2 hektar
  • Alat – alat pertanian
  • Biaya upah kerja dan lain – lain

“Kita harapkan pisang barangan yang kita tanam ini menghasilkan produksi sesuai yang kita inginkan, dan karena PT MBI juga sebagai offtaker jadi kita fokus bagaimana pohon pisang ini bisa subur berbuah bagus,”pungkasnya.***

Scroll to Top