BOGOR, KORAN INDONESIA – Viralnya pemberitaan via video di media sosial terkait adanya dugaan gudang penyulingan oli palsu yang disebut milik Kepala desa Sadeng membuat Kades Yanuar Lesmana angkat bicara meluruskan informasi tersebut.
“Dalam pemberitaan yang disebut sebut tempat penyulingan oli palsu itu sebetulnya bekas gelundungan, dan praktek penyulingan oli palsu itu benar – benar tidak ada, apalagi dikaitkan dengan kepemilikan kepala desa itu tidak benar,” Tegas Yanuar Lesmana kepada Koran Indonesia beberapa saat lalu.
Saat peristiwa itu terjadi Yanuar mengaku sedang tidak ada di lokasi, dan informasi terjadinya peristiwa sesuai dalam video yang beredar, Ia dapatkan dari anak buahnya serta masyarakat yang melaporkan kepada dirinya. Dan ia kembali menegaskan saat kejadian dirinya sedang melaksanakan kerja bakti di aliran sungai bersama warga.
Pada kesempatan itu Ia menjelaskan, bahwa tempat gulundung itu sudah tidak aktif, sudah ditutup dan dipasang garis polisi dan tengah dalam pengawasan kepolisian Polda Jawa Barat. Jadi tidak benar adanya aktivitas kembali di lokasi tersebut.
Kolam Bioflok Ketahanan Pangan
Di lokasi yang diduga dijadikan tempat penyulingan oli palsu dan viral di media sosial, Yanuar kembali menegaskan lokasi tersebut dijadikan kolam ikan Bioflok untuk program ketahanan pangan desa Sadeng.
Insiden keributan
Menurut Yanuar terjadi keramaian masyarakat dirinya tidak ada di TKP namun menurut informasi yang Ia dapatkan keributan itu terjadi karena adanya informasi (oknum wartawan) dari Cirangsad itu telah melakukan pemerasan kepada gembosan mencapai puluhan juta rupiah, akhirnya warga tersulut dan akhirnya Keos disitu.
“Karena saya tidak ada di TKP, namun peristiwa itu telah dilaporkan ke pihak kepolisian, dan Kapolsek dan Jajarannya gercep datang ke lokasi untuk melerai insiden keributan, dan oknum yang terlibat langsung diamankan ke Polsek Leuwiliang untuk dimintai keterangan lebih lanjut,”ujar Yanuar.
Harapannya ke depan selama ini saya tidak ada masalah dengan orang media, saya selalu welcome dengan media, kalau bicara media ya media, jangan bicara oknum, saya selalu menjalin tali silaturahmi dengan media.
Sementara itu Kepala Dusun (Kadus), Willy Santoza mengaku saat insiden keributan terjadi dirinya datang ke TKP bersama Babinkamtibmas, setibanya di lokasi ada tiga kendaraan yang katanya diduga mobil yang digunakan oknum pemerasan, dan sudah terjadi Keos dan keributan
“Saya sempat melerai keributan tersebut, siapapun mereka jangan sampai terjadi anarkis, karena walau bagaimanapun itu sudah menyangkut warga saya. Dan saya sangat apresiasi kepada pihak Polsek Leuwiliang dan Koramil yang gercep bisa mengamankan situasi saat itu yang sudah mulai tidak kondusif,” kata Willy.
Dan pada malam itu juga pihak kepolisian Polsek Leuwiliang sudah mengevakuasi oknum tadi di bawa ke Polsek untuk diamankan dari amukan warga, serta untuk diperiksa lebih lanjut.
Kemudian jika insiden itu dikaitkan dengan adanya dugaan gelundungan emas itu, Willy menyebut sepengetahuannya lokasi itu sudah ditutup sejak dua bulan lalu, dan sampai saat ini sudah tidak ada aktivitas, dan sedang dalam pengawasan Polda Jawa Barat.***



