BOGOR, KORAN INDONESIA – Forum Komunitas Kecamatan (Forkopimcam) Dramaga bersama Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Bogor, H Wasto S Hut MPd melakukan Sidak ke dapur – dapur SPPG-MBG di wilayah Kecamatan Dramaga pada Kamis, 15/01/2026.
Sidak ke dapur MBG dipimpin langsung Camat Dramaga, Atep S Sumaryo didampingi Kapolsek Dramaga IPTU Maki Zalukhu, Danramil Ciomas, Perwakilan dari PGRI Dramaga, dengan tujuan memastikan para pengelola dapur menjalankan tugasnya sesuai SOP yang telah ditetapkan pemerintah.
Diketahui, MBG merupakan program strategis nasional dan merupakan salah satu Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yang perlu didukung dan disukseskan, karena program ini sangat mulia, pemerintah memberi makan kepada masyarakat.
Saat dikonfirmasi Koran Indonesia di ruang kerjanya, Camat Dramaga, Atep S Sumaryo mengatakan hari ini pihaknya bersama Forkopimcam dan Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Bogor, sidak ke dapur MBG yang ada di wilayah Dramaga, menindaklanjuti adanya keluhan dari kelompok penerima manfaat (kepala sekolah dan guru) saat rakor yang berlangsung Rabu, 14/01/2026 terkait makanan MBG yang diterima tidak sesuai standar.
Menurut Atep di wilayah Dramaga ada 11 dapur yang sudah terdaftar, 8 diantaranya sudah beroperasi, sementara 3 dapur lainnya masih menunggu kuota yang akan diberikan pihak BGN. Dari 8 dapur yang sudah beroperasi 5 dapur sudah berhasil dikunjungi pada hari ini (Kamis-red).
“Dapur yang sudah kami kunjungi yaitu dapur Pandu Cendekia, Dramaga II, KTS I dan II dan dapur Neglasari 1,” katanya.
Dapur MBG yang Belum Beroperasi diusulkan segera Beroperasi
Pada kesempatan itu Ia mengungkapkan 8 dapur yang sudah beroperasi belum bisa mengcover semua kebutuhan makanan yang dibutuhkan KPM yang ada di Dramaga, masih banyak yang belum terima, dan menikmati haknya. Oleh karena itu pihaknya akan melaporkan kepada pimpinan dan pihak BGN 3 dapur yang sudah siap beroperasi untuk segera dioperasikan.
“Kami akan mendorong 3 dapur yang sudah siap namun belum beroperasi agar segera dioperasikan kepada BGN, agar masyarakat yang belum terima haknya sebagai penerima manfaat dapat segera kebagian dan menikmati makanan MBG,”tegasnya.
Temuan Tim di Lapangan
Berdasarkan hasil peninjauan ke lapangan ditemukan buah nanas yang sudah dikemas dan siap edar, namun masih utuh dengan kulitnya, tidak dikupas. Selain itu tim juga menemukan salah satu dapur IPAL nya belum tersedia, limbahnya itu dibuang langsung ke selokan, dan saluran airnya mampet dengan sampah, airnya menggenang, warnanya hitam dan menimbulkan bau tak sedap.
Dengan kondisi seperti itu, tentunya ini kan tidak sesuai dengan standar SOP yang telah ditetapkan, dapur itu harus bersih dan higienis, tetapi dengan lingkungan kotor seperti itu bisa saja makanan dari dapur MBG terkontaminasi bakteri yang terbawa melalui udara.

“Kami mengimbau sekaligus meminta kepada para pengelola dapur SPPG-MBG untuk melaksanakan tugas sesuai standar yang telah ditetapkan karena ini bukan program sosial tetapi ini program bisnis yang dibiayai negara, jadi kami minta pelayanan kepada masyarakat harus baik, jangan asal asalan. Dan kepada dapur yang IPAL nya belum ada, secepatnya segera dibenahi,”tegasnya.
Tanggapan Dapur MBG
Pengawas Yayasan Sukamulya, H Suhendar yang menaungi dapur KTS II menegaskan akan segera memperbaiki koreksi saran dan masukan dari tim Forkopimcam yang sidak ke dapur miliknya.
“Terima kasih atas koreksinya kami siap melaksanakan perintah dan mulai hari ini sudah kami kerjakan,” kata H Suhendar.
Lalu pemilik dapur Dramaga II, Hj Masniati (Ibu Yeti) menyambut baik kunjungan Forkopimcam ke dapurnya. Ia mengaku kaget karena tidak tahu sebelumnya bakal kedatangan rombongan pak Camat.
“Meskipun kaget tapi kami merasa diperhatikan, selalu didukung, disupport dan kami sudah komit ingin mensukseskan program ini dengan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” katanya.
Kemudian pengelola dapur SPPG-MBG di Neglasari, Ape Harjani mengatakan kunjungan tim dari kecamatan sudah beberapa kali datang ke dapurnya, namun kunjungan hari ini lebih lengkap ada anggota dewan dan perwakilan dari PGRI.
Koreksi yang dilakukan tim pertama terkait saluran sanitasi yang disalurkan ke aliran sungai Cihideung harus di filtrasi dengan saringan itu yang pertama lalu koreksi kedua terkait adanya roti tawar yang berjamur.
“Kami tentunya akan melaksanakan perintah, saran dan masukan terkait 2 koreksi tersebut, kita akan pasang filter pada saluran pembuangan, dan kami akan lebih selektif lagi dalam pengadaan bahan makanan,” pungkasnya.***



