BANDUNG, KORAN INDONESIA – Banyaknya pengguna aktif di media sosial; tidak selalu berarti bahwa semua platform yang pernah dibuat bisa bersaing di pasaran.
Akhirnya, beberapa platform sosial media tutup karena berbagai alasan.
1. Google+ (Google Plus)
Platform media sosial yang diluncurkan oleh Google LLC ini bertujuan untuk menjadi pesaing utama jejaring sosial seperti Facebook.
Namun, karena kurangnya daya tarik pengguna hingga masalah privasi dan kebocoran data, Google+ akhirnya secara resmi ditutup.
Tetapi, perusahaan Google memutuskan untuk memfokuskan usahanya ke produk lain.
2. Vine
Vine adalah platform video pendek yang populer di pertengahan 2010-an dengan fokus terhadap konten loop berdurasi 6 detik.
Namun, kompetisi dari platform video lainnya pun semakin kuat, dan Vine tidak mampu mempertahankan momentum.
Karena, para pengguna dan kreator beralih ke platform lain yang menawarkan lebih banyak fitur.
Selain itu, sulitnya monetisasi yang berkelanjutan untuk kreator dan platform juga cukup berpengaruh.
3. Ello
Ello diluncurkan sebagai “anti-Facebook” dengan slogan “You are not the product”, menekankan pada privasi dan pada awalnya tanpa iklan.
Namun, aktivitasnya menurun dan secara resmi dinyatakan tidak aktif sejak Juli 2023.
Meski memiliki nilai-nilai yang unik, Ello gagal menarik massa yang besar.
Sedang persaingan dengan platform-platform yang lebih mapan sangat kuat.
4. Keen
Keen adalah proyek sosial dari Google (Area 120) yang diluncurkan sekitar 2020 dengan tujuan sebagai platform “pinboard” ala Pinterest dengan rekomendasi berbasis machine learning.
Namun, Google memutuskan untuk menutupnya karena belum cukupnya traction/pengguna untuk menjadi platform besar.
Selain itu, Google memang sedang memprioritaskan proyek lain yang akhirnya menutup banyak eksperimen.
5. Display
Display (stylised “display”) adalah jejaring sosial yang relaunched dari Tsū dan berjanji akan membagi pendapatan iklan dengan pengguna.
Tetapi, platform ini dinyatakan akan “discontinued” pada 18 Juni 2025.
Tutupnya paltform ini karena model bisnis berbagi pendapatan saja tidak cukup untuk mempertahankan platform besar dalam jangka panjang.
Yang pada akhirnya, komunitas pengguna pun tidak tumbuh cukup besar untuk mendukung ekosistem.
Fraksi PDIP Nilai Gugatan Mentan Amran terhadap Tempo Ancam Kebebasan Pers



