Bupati Bogor Rudy Susmanto Berkomitmen Mendorong Percepatan Terbentuknya DOB- KBB, Siapkan Anggaran Rp 300 M untuk Pembangunan Infrastruktur

Bagikan

BOGOR, KORAN INDONESIA – Komitmen serius ditegaskan Pemerintah Kabupaten Bogor dalam mempercepat pembangunan infrastruktur sebagai bagian dari kesiapan pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) Kabupaten Bogor Barat (KKB).

Dihadapan peserta lokakarya, pelantikan dan musyawarah kerja yang berlangsung di gedung SBS Premier Leuwiliang, Bupati Bogor Rudy Susmanto menyatakan, fokus pembangunan infrastruktur telah menjadi prioritas sejak 2025 dan akan terus digenjot pada 2026, khususnya di wilayah Bogor Barat sebagai bentuk keseriusan pemerintah daerah dalam menyiapkan calon DOB.

“Program pembangunan tahun 2025 sudah berjalan dan akan kami tingkatkan pada 2026. Infrastruktur di Bogor Barat menjadi perhatian utama sebagai bagian dari persiapan Daerah Otonomi Baru,” ujar Rudy Rabu 17 Desember 2025.

Dalam kesempatan itu Rudy mengungkapkan, wacana pembentukan Kabupaten Bogor Barat telah muncul sejak era 1990-an, namun wacana itu hingga kini belum terwujud.

Oleh karena itu Ia menegaskan, sejak dilantik hingga saat ini sekitar 10 bulan memimpin Kabupaten Bogor, pihaknya bersama Wakil Bupati Bogor, Ade Ruhandi bergerak cepat merespons aspirasi masyarakat Bogor Barat melalui kebijakan pembangunan yang berpihak.

Tiga Dekade Penantian DOB

Menurut Rudy, sudah lebih dari tiga dekade masyarakat Bogor Barat menantikan kabupaten baru. Pemerintah daerah tidak main-main. Pihaknya terus genjot terealisasinya DOB, mulai mempersiapkan alokasi anggaran infrastruktur yang signifikan, mengajukan izin lahan ke Perhutani di Cigudeg sebagai titik lokasi ibu kota KBB, dan sudah diizinkan lahan tersebut seluas 41 hektar.

“Anggaran yang sudah kami siapkan Rp 200 miliar di Dinas PUPR dan di DPKPP Rp 100 miliar jika digabung menjadi Rp 300 miliar untuk membangun infrastruktur di Kabupaten Bogor Barat, itu anggaran yang sudah berjalan di tahun 2025, dan di tahun 2026 kita juga sudah menyiapkan anggaran untuk pembebasan lahan dari Cigudeg-Rumpin untuk jalan khusus angkutan barang dan tambang,”Katanya.

Jalan Alternatif Rancabungur – Leuwiliang

Disinggung rencana pelebaran ruas jalan Rancabungur – Leuwiliang Rudy menegaskan bahwa anggarannya sudah disiapkan sebesar Rp 50 miliar, jika tidak memungkinkan direalisasikan diakhir tahun 2025 maka tentunya mundur di awal tahun 2026.

“Anggaran awal Rp 50 miliar, itu tidak akan menuntaskan semuanya, jadi kita akan anggarkan secara bertahap setiap tahun, dan itu hanya untuk pembebasan lahan,” Tegas Rudy.

Terpisah di lokasi yang sama, Wakil Bupati Bogor, Ade Ruhandi (Jaro Ade) mengatakan bahwa acara ini merupakan pengukuhan kembali Tim KPPKBB untuk periode 2025- 2030.

Dalam kesempatan itu Ia menyampaikan pesan kepada Tim KPPKBB untuk menindaklanjuti semangat pemekaran KBB, sesuai semangat Bupati dan wakil Bupati Bogor yang tertuang dalam visi misi.

“Kehadiran Pak Bupati dan Ketua DPRD Kabupaten Bogor dan jajaran komisi harus menjadi pelecut tim KPPKBB untuk bekerja lebih keras untuk mewujudkan cita – cita bersama terbentuknya Kabupaten Bogor Barat,”Imbuhnya.

Menurut Dia pemekaran wilayah itu sama halnya seperti keluarga, ketika anaknya ingin misah, maka orang tuanya harus mempersiapkan, begitu juga pemekaran wilayah jadi segala sesuatunya harus dipersiapkan.

“Persiapan yang sudah kami lakukan, anggarannya sudah disiapkan, titik lokasi calon ibu kotanya sudah ditentukan, lahan yang yang akan digunakan sudah diizinkan pihak Perhutani, tinggal ditindaklanjuti,”katanya.

Prioritas tahap awal lanjut Jaro Ade adalah pembangunan infrastruktur, jalan Rancabungur – Leuwiliang dibangun, jalan khusus angkutan barang dan tambang dibangun dan jalan Leuwiliang ke Sukabumi via Cianten dibangun untuk menunjang mobilitas masyarakat menuju KBB.

Penataan Transportasi Umum

Lalu ia juga mengungkapkan rencana penataan transportasi umum di KBB yakni, masyarakat yang mau ke Jakarta menggunakan KRL commuter Line tidak lagi ke Stasiun Bogor, Cilebut dan Bojong gede, tetapi via stasiun Tenjo.

“Jadi masyarakat Jasinga, Cigudeg, Rumpin, Leuwiliang yang mau ke Jakarta via stasiun Tenjo, untuk menunjang mobilitas warga perlu adanya transportasi umum menuju stasiun tersebut,”ujarnya.

Ke depan lanjut Dia masyarakat harus mulai berubah mansetnya kalau ke Jakarta jangan ke stasiun Bogor tetapi ke Tenjo. Untuk menunjang itu pihaknya memikirkan ada rute transportasi umum (Bus) dari Leuwiliang – Rumpin – Cigudeg – Jasinga – Tenjo.

“Kita harapkan dengan adanya pergeseran orang, maka pergeseran dan pertumbuhan ekonomi pun terjadi dengan sendirinya,”Pungkas Jaro Ade.***

Scroll to Top