Jakarta, KORANINDONESIA – Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS) bersama Srikandi Berdaya dan CITAS kembali menegaskan komitmennya dalam mendorong ruang publik yang inklusif melalui kegiatan nonton bareng film Teman Tegar Maira: Whisper from Papua. Kegiatan ini diselenggarakan di Cinepolis Kebayoran Park Mall pada Selasa, 10 Februari 2026 yang dihadiri oleh teman-teman difabel dari berbagai ragam dan spektrum disabilitas.
Dalam satu ruang studio yang sama, hadir teman tuli, teman dengan grahita, autisme, ADHD, hingga rare syndrome. Kegiatan ini bukan sekadar agenda hiburan, tetapi menjadi bagian dari langkah nyata menghadirkan kesetaraan akses di bidang seni dan budaya.
Nonton bareng ini merupakan agenda rutin DNIKS bersama para mitra. Tujuannya adalah mempertemukan teman-teman difabel dari berbagai latar belakang agar dapat saling berinteraksi, memperluas jejaring, serta memperoleh kesempatan yang sama dalam menikmati karya film Indonesia. Di tengah masih terbatasnya ruang publik yang benar-benar inklusif, kegiatan seperti ini menjadi sangat berarti.
Ketua DNIKS Bidang Peningkatan Skills dan Pengembangan Profesi, RA Loretta Kartikasari, menegaskan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai ruang kebersamaan yang setara bagi semua peserta.
“Kami ingin memastikan bahwa teman-teman difabel memiliki kesempatan yang sama untuk menikmati karya film Indonesia. Nonton bareng ini menjadi ruang pertemuan yang hangat, di mana mereka bisa bersosialisasi dan merasakan pengalaman yang sama seperti masyarakat pada umumnya,” ujar perempuan yang akrab disapa Dya Loretta.
Pemilihan film Teman Tegar Maira: Whisper from Papua dinilai sejalan dengan semangat inklusivitas yang diusung dalam kegiatan ini. Film tersebut mengisahkan Tegar, seorang anak difabel, yang menjalin persahabatan dengan Maira, anak Papua dari pedalaman. Cerita mereka menghadirkan gambaran tentang keberanian, ketulusan, dan semangat menjelajahi dunia tanpa dibatasi kondisi fisik maupun latar belakang sosial.
Bagi Dya Loretta, film ini memiliki pesan yang kuat dan relevan bagi teman-teman difabel di Indonesia. Sosok Tegar digambarkan bukan sebagai anak yang terkungkung oleh keterbatasan, melainkan sebagai pribadi yang memiliki semangat besar untuk berpetualang dan mengenal dunia lebih luas.
“Film ini menjadi semangat untuk teman-teman difabel agar tetap dapat berpetualang dan menjelajahi indahnya Nusantara, khususnya tanah Papua. Kisah ini menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk memiliki cita-cita dan pengalaman yang luas,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa hubungan antara Tegar dan Maira memberikan pesan mendalam tentang kesetaraan. Dua anak dengan latar belakang berbeda itu berdiri sejajar sebagai sahabat. Tidak ada sekat, tidak ada rasa lebih atau kurang.
“Terkadang kita melupakan bahwa kesetaraan hadir di berbagai bidang kehidupan. Film ini memperlihatkan bahwa anak difabel dan anak dari pedalaman Papua dapat berdiri sejajar sebagai sahabat. Persahabatan dan petualangan mereka menjadi simbol bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk tumbuh dan berkembang,” tambah Dya.
Pelaksanaan kegiatan ini juga memperhatikan kebutuhan setiap peserta. Lingkungan studio juga tetap nyaman bagi teman-teman dengan autisme maupun ADHD. Pendampingan diberikan untuk memastikan teman tuli dapat mengikuti alur cerita dengan baik. Seluruh peserta diberikan ruang untuk mengekspresikan diri tanpa rasa khawatir.
Sejak awal acara hingga akhir pemutaran film, antusiasme peserta terlihat jelas. Tawa, rasa haru, dan diskusi kecil setelah film usai menjadi bagian dari pengalaman bersama yang berkesan. Beberapa peserta mengaku merasa lebih percaya diri karena dapat mengikuti kegiatan di ruang publik yang inklusif dan penuh pengertian.
Orang tua dan pendamping yang hadir juga menyampaikan apresiasi. Mereka menilai kegiatan ini memberikan pengalaman berharga bagi anak-anak mereka. Bukan hanya karena dapat menonton film di bioskop, tetapi karena merasakan penerimaan dan kebersamaan tanpa stigma.
Bagi DNIKS, akses terhadap hiburan dan karya seni merupakan bagian dari hak setiap warga negara. Inklusivitas tidak hanya berbicara tentang pendidikan dan pekerjaan, tetapi juga tentang kesempatan menikmati ruang sosial dan budaya. Kegiatan nonton bareng ini menjadi bukti bahwa langkah sederhana, jika dilakukan secara konsisten, dapat memberikan dampak yang luas.
Dya Loretta sendiri memahami pentingnya ruang yang setara dari pengalaman pribadinya. Ia merupakan penyandang disleksia dan telah melalui perjalanan panjang dalam menghadapi tantangan belajar sejak kecil.
“Saya lahir dengan disleksia dan memahami bagaimana rasanya menghadapi tantangan dalam proses belajar dan beradaptasi. Dari pengalaman itu, saya percaya bahwa ketika diberikan kesempatan dan dukungan yang tepat, teman-teman difabel mampu menunjukkan potensi terbaiknya,” ungkapnya.
Pengalaman tersebut semakin menguatkan komitmennya untuk terus membuka ruang-ruang yang inklusif. Menurutnya, kesetaraan tidak cukup hanya dibicarakan, tetapi perlu diwujudkan melalui aksi nyata yang berkelanjutan.
Melalui kegiatan rutin seperti ini, DNIKS berharap semakin banyak pihak, termasuk pengelola ruang publik dan pelaku industri kreatif, yang tergerak untuk menghadirkan fasilitas yang ramah difabel. Kesadaran kolektif menjadi kunci agar inklusivitas tidak berhenti sebagai slogan, melainkan menjadi praktik sehari-hari.
Ke depan, DNIKS bersama Srikandi Berdaya dan CITAS akan terus menghadirkan program yang mendorong peningkatan kapasitas, penguatan jejaring, serta perluasan akses bagi teman-teman difabel di berbagai bidang. Nonton bareng menjadi salah satu pintu masuk untuk membangun rasa percaya diri, kebersamaan, dan partisipasi aktif dalam kehidupan sosial.
Melalui film Teman Tegar Maira: Whisper from Papua, pesan tentang keberanian, persahabatan, dan semangat tanpa batas kembali ditegaskan. Di dalam satu studio yang dipenuhi keberagaman, para peserta tidak hanya menyaksikan kisah di layar lebar, tetapi juga merasakan secara langsung makna kebersamaan dan kesetaraan.
Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa masyarakat yang inklusif dibangun dari kesediaan untuk membuka ruang dan memberi kesempatan. Ketika teman-teman difabel dapat duduk bersama, tertawa bersama, dan menikmati cerita yang sama, di situlah kesetaraan benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari.***



