BOGOR, KORAN INDONESIA – IPB University berkomitmen memperkuat ekosistem riset unggul dan berdampak. Hal tersebut diketahui dalam Launching dan Sosialisasi call for proposal secara daring dengan pembahasan Program Riset Unggulan (RUI) Tahun anggaran 2026.
Acara tersebut berlangsung secara daring dibuka secara resmi oleh Rektor IPB University, Dr Alim Setiawan dan dihadiri para wakil rektor, dekan, serta dosen dan peneliti di lingkungan IPB University.
Rektor IPB University, Dr Alim Setiawan dalam sambutannya mengatakan bahwa riset adalah jantung dari Tridarma perguruan tinggi. Menurutnya inovasi IPB dari tahun ke tahun menunjukkan trend peningkatan jumlah hasil penelitian.
“Atas dasar itu, kita perlu terus mendorong riset interdisipliner dan berdampak luas. Program Riset Unggulan IPB 2026 menjadi tonggak strategis untuk meningkatkan kualitas dan reputasi riset kita di tingkat internasional,” tegasnya.
Sementara itu, Wakil Rektor IPB University bidang Riset, Inovasi, dan Pengembangan Agromaritim, Prof Ernan Rustiadi dalam keterangannya kepada Koran indonesia.net Jumat, 27/02/2026 mengatakan pentingnya arah riset yang responsif terhadap tantangan global.
Menurutnya IPB University sangat mendukung program ini dan akan menggelontorkan anggaran sebesar Rp8,5 miliar yang bersumber dari dana masyarakat.
“Anggaran yang kita siapkan naik 100 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sesuai arahan pak Rektor, tahun ini kami ingin riset di IPB tidak hanya berorientasi pada publikasi, tapi berdampak. Maka dari itu, nantinya akan kami fasilitasi riset para peneliti dalam bentuk lokakarya,” ujarnya.
Terpisah, Direktur Riset dan Inovasi IPB University Prof Sugeng Heri Suseno menjelaskan bahwa skema riset tahun ini lebih fokus dan berjenjang.
“Kami menghadirkan berbagai skema seperti Riset Unggulan IPB yang memprioritaskan bidang omics, artificial intelligence, sustainability, serta frontier research yang menargetkan publikasi di jurnal Nature dan Science. Ada pula skema Dosen Muda Reguler dan Advance untuk membina peneliti muda,” jelasnya.
Detail teknis program dipaparkan Asisten Direktur Bidang Riset Dasar dan Terapan IPB University Dr Eng Obie Farobie. Ia memaparkan persyaratan pengusul, besaran dana, dan luaran wajib untuk setiap skema.
“Untuk skema RUI, ketua peneliti wajib memiliki rekam jejak publikasi di jurnal bereputasi dan luaran minimal satu publikasi Q1. Sementara frontier research mendapatkan pendanaan hingga Rp200 juta per judul dengan target publikasi di Nature atau Science,” tegasnya.
Selain itu, Ia juga mengingatkan pentingnya kolaborasi multidisiplin dan internasional.
“Kami berharap program ini dapat melahirkan hasil – hasil riset unggulan yang excellent secara akademik, dan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat serta dapat mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs),” pungkasnya.***



