GARUT, KORAN INDONESIA – Sesuai hasil verifikasi lanjutan, sistem kesehatan di Kabupaten Garut dinilai masih belum optimal. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Garut, dr Leli Yuliani, mengakui Kota Intan masih memiliki banyak kekurangan yang perlu dibenahi.
Leli menjelaskan, berdasarkan hasil verifikasi, Garut masih memiliki kekurangan terkait sistem kesehatan di lingkungan pendidikan. Daya dukung sekolah dan madrasah disebut masih rendah. Dia mengaku akan berkolaborasi dengan Kemenag untuk melengkapi indikator tersebut.
”Kami akan berkolaborasi dengan berbagai pihak, khususnya Kemenag, untuk memperbaiki sistem kesehatan di lingkungan sekolah Islam,” kata dr Leli.
dr Leli menambahkan, indikator nomor tiga mengenai keberadaan tim pembina UKSM (Usaha Kesehatan Sekolah/Madrasah) tingkat kecamatan dan kabupaten juga masih buruk. Dia mengatakan pihaknya akan segera melengkapi data persentase jumlah sekolah yang menyelenggarakan skrining kesehatan.
dr Leli menilai, pembenahan ini tidak akan berhasil tanpa adanya kolaborasi antar-sektor dan partisipasi aktif masyarakat. ”Kami sadar, untuk menciptakan kota yang sehat, kita tidak dapat berjalan sendiri. Kita harus berjalan beriringan,” pungkas dr Leli.
Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Garut, Nurdin Yana, menjelaskan pembenahan ini dilakukan agar Garut dapat meraih penghargaan Swasti Saba, sebuah pengakuan bagi daerah yang berhasil membangun ekosistem kesehatan secara terpadu dan berkesinambungan.
”Kami berkomitmen untuk menciptakan lingkungan yang mendukung derajat kesehatan masyarakat melalui program yang langsung menyentuh warga,” tegas Nurdin.***



