BOGOR, KORAN INDONESIA – Program ketahanan pangan (Ketapang) desa Neglasari yang dibiayai dari Dana Desa sejak tahun 2022 hingga 2025 direalisasikan pada peternakan domba, budidaya ikan dan peternakan ayam.
Hal tersebut diketahui saat sekretaris desa Neglasari, Kosasih Irvan melakukan monitoring ke salah satu kolam Bioflok di RW 04 Kp Situ Leutik Minggu, 07/12/2025.
“Program Ketapang desa Neglasari tahun 2022 ke peternakan domba RW 01, tahun 2023 Budidaya ikan di RW 04, tahun 2024 peternakan domba di RW 03 kembali dan tahun 2025, peternakan ayam Pedaging di wilayah RW 02 ” kata Kosasih.
Khusus untuk budidaya ikan gurame ini sudah berjalan hampir tiga tahun. Gurame yang dibudidayakan adalah jenis gurame Padang dan gurame soang. Setiap tahunnya sudah panen, dan saat ini sudah panen untuk yang ke tiga kalinya.
“Kami budidayakan ikan gurame untuk pembenihan dan juga pembesaran ikan nila bangkok,”katanya.
Dalam kesempatan itu Irvan menyebut bahwa program ketahanan pangan digulirkan sejak 2022 lalu diterapkan secara bergiliran di wilayah masing – masing RW. Tujuannya tiada lain untuk menjaga stabilitas perekonomian masyarakat setempat.
“Jadi program Ketapang ini diharapkan hasilnya itu bisa dirasakan masyarakat dan para pengelola, sementara desa hanya mensuport dan memastikan bahwa program tersebut berjalan, dan menghasilkan. Sesuai data yang ada program Ketapang sejak 2022 terus berjalan berkesinambungan, setelah masa panen dananya digulirkan kembali kepada bibit baru dan digunakan untuk operasional pengelola,”tegasnya.
Ketika disinggung PAD desa, Irvan dengan tegas menyebut bahwa selama ini kebijakan pemerintah desa Neglasari belum mengutif dana hasil penjualan dari program Ketapang.
“Kami belum menetapkan hasil dari program Ketapang itu masuk untuk porsi PAD desa, Kami menyerahkan sepenuhnya kepada para pengelola Ketapang di masing – masing wilayah, setelah nanti kita evaluasi, program ini terus berjalan dan berkembang, sesuai arahan pak Kades, baru kita akan membuat peraturan desa yang baru,”ucapnya.
Diketahui juga bahwa selama ini hasil ternak domba selain dijual ke pasar, dijual juga ke masyarakat yang membutuhkan dengan harga di bawah standar harga pasar.
Kolam Bioflok
Sementara itu ketua kelompok tani RW 04 desa Neglasari, Agus S mengatakan bahwa budidaya ikan ini menggunakan kolam Bioflok. Ada sekitar enam kolam Bioflok yang digunakan, awalnya budidaya lele, namun hasil evaluasi tidak menguntungkan, karena biaya operasional pakan cukup tinggi akhirnya beralih ke pembenihan ikan gurame jenis Padang dan soang.
“Pada tahap awal pembenihan ikan gurame kami membeli calon indukan itu rata – rata ukuran 4 sampai 5 jari sebanyak 500 ekor dengan harga Rp 7 ribu/ ekor dengan tingkat kematian sebanyak 30 persen,”kata Agus.
Waktu terus bergulir sebanyak 70% atau sebanyak 350 ekor bibit gurame berhasil dibesarkan, dan Alhamdulillah sudah dipanen saat itu di tahun 2024 dan dipasarkan melalui online dengan harga satuan.
“Kami pasarkan melalui online, dan pasarnya itu diserap selain warga lokal Neglasari yang punya kolam ikan juga dari luar yakni dari Ciseeng, Parung dan Kemang,”ujar Agus.
Indukan Gurame
Dari jumlah 350 ekor yang berhasil dibesarkan, 30 ekor lainnya dipisahkan untuk indukan dan dijadikan pembibitan atau pembenihan.
“Sekitar 30 ekor kami jadikan indukan, dan sudah dua kali pembenihan. Pembenihan pertama sudah panen, dan saat ini memasuki panen pembenihan kedua, ukurannya sudah sebesar ibu jari, dan sudah siap dipasarkan,” tegasnya.
Selain budidaya gurame, pihaknya juga melakukan pembesaran ikan nila Bangkok.
Kendala Pembenihan Gurame
Dalam budidaya pembenihan gurame Agus menyebut gampang – gampang susah, terutama faktor cuaca sangat dominan menentukan telurnya itu netas atau tidak, jadi seumpama ada ribuan telur yang ada belum tentu semuanya netas.
“Faktor cuaca ini sangat berpengaruh sekali terhadap proses penetasan telur gurame, juga sangat berpengaruh terhadap pembesarannya, jika suhu tidak seimbang, Ph air berubah maka ikan gurame akan berjamur dan mati,” ungkapnya.
Kelengkapan Fasilitas Kolam Bioflok
Menurut Agus budidaya pembenihan ikan gurame ini sebetulnya cukup bagus dan memiliki nilai ekonomi cukup tinggi, untuk menghasilkan produksi yang cukup baik tentunya diperlukan pemeliharaan kolam Bioflok dan fasilitas lainnya agar pertumbuhan ikan gurame lebih baik lagi.
Oleh karenanya Ia berharap Pemdes Neglasari mengucurkan kembali anggaran untuk pemeliharaan kolam, terpal Bioflok sudah banyak yang usang, dan area seputar kolam sebaiknya diplur dengan adukan semen pasir, juga penutup atap kolam yang transparan, agar cahaya matahari masuk, tetapi jika hujan, kolam aman dari air hujan.
“Kendalanya sudah jelas, Ph air harus stabil tidak berubah rubah, jika memungkinkan kolam ini ditutup dengan penutup transparan, agar pertumbuhan ikan jadi bagus, dan ini menjadi solusi terbaik untuk kelangsungan budidaya pembenihan ikan gurame,”pungkasnya.***



