JAKARTA, KORAN INDONESIA – Komisi XIII DPR RI bersama Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas) Agus Andrianto melakukan kunjungan kerja ke Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, pada Selasa (10/2/2026).
Kunjungan ini dilakukan di beberapa lokasi. Lokasi pertama yang didatangi adalah Balai Latihan Kerja (BLK) Flying Ash and Bottom Ash (FABA), yaitu tempat pengolahan residu pembakaran batu bara dari PLTU Adipala, Cilacap, milik PT PLN. Pengolahan tersebut dilakukan oleh para narapidana.
Saat kunjungan berlangsung, terdapat 15 narapidana yang sedang mengolah FABA menjadi batako, paving block, dan material sejenis lainnya. Empat narapidana menuangkan FABA ke mesin cetak, empat lainnya menerima hasil cetakan paving block di bagian depan mesin, sementara tujuh narapidana memindahkan dan menyusun paving block yang telah dicetak.
Anggota Komisi XIII DPR RI Fraksi PDIP Marinus Gea mengapresiasi program itu. Menurutnya, kegiatan ini sangat produktif bagi para narapidana.
“Kita sedang berada di workshop-nya FABA, tempat kreativitas, produktivitas Nusakambangan untuk bagian dari penyatuan warga binaan kepada masyarakat. Mereka dilatih untuk bisa melakukan produktivitas dengan menggunakan bahan-bahan yang diambil dari limbah-limbah industri, termasuk limbah PLTU,” kata Marinus, dikutip, Rabu (11/2).
“Nah, FABA ini salah satu contoh UMKM yang dibangun di dalam Lapas, di dalam Pulau Nusa Kambangan ya, sebagai aktivitas dari para warga binaan. Dan sangat produktif sekali karena semua limbah-limbah itu bisa bermanfaat,” tambahnya.
Marinus mengaku terinspirasi melihat para narapidana mengubah limbah menjadi batako yang dapat dimanfaatkan untuk pembangunan jalan, rumah, dan kebutuhan lainnya.
“Jadi buat untuk membangun ekonomi rakyat, ini bisa menjadi salah satu inspirasi yang sangat populer dan bagus. Murah lagi,” ucapnya.
Selain itu, Komisi XIII bersama Menteri Imipas juga meninjau tempat pengembangbiakan sidat, yakni ikan sejenis belut. Tempat ini juga dikelola langsung oleh para warga binaan.
Marinus turut mengapresiasi kegiatan tersebut. Ia menilai, program ini sangat kreatif dan membantu para narapidana agar tetap memiliki keterampilan saat kembali ke masyarakat.
“Sangat kreatif dan ide yang menurut saya ide yang sangat hebat. Bagaimana membuat warga binaan bisa memiliki keahlian skill dan juga memiliki kedisiplinan. Jadi jika kelak nanti mereka kembali ke masyarakat, mereka sudah punya modal skill, kedisiplinan, dan modal pekerjaan. Sangat bermanfaat,” tuturnya.
Ia juga menyebut para warga binaan mendapatkan upah dari pekerjaan tersebut, yang dapat menjadi modal awal untuk membuka usaha setelah bebas.
“Jadi warga binaan itu ketika keluar selalu akan berpikir keras lagi untuk mendapatkan sesuatu yang lebih. Dia sudah punya modal,” pungkas Marinus.***
Baca juga: PDIP Desak Pemerintah Benahi Ekosistem Film Nasional di Tengah Ancaman AI



