BANDUNG, KORAN INDONESIA – Semakin maju peradaban, semakin kompetitif pula tuntutan yang ada, seolah-olah kita perlu memberikan performa yang sempurna setiap saat.
Nyatanya, meski pencapaian hebat sudah diraih, sebagian orang tetap merasa tidak layak dan merasa bahwa keberhasilan sebelumnya bukanlah sesuatu yang bisa diakui.
Apa Itu Imposter Syndrome?
Imposter syndrome adalah kondisi psikologis ketika seseorang merasa dirinya tidak cukup kompeten meski sudah memiliki banyak bukti nyata tentang kemampuan dan prestasinya.
Penderita sindrom ini sering merasa “menipu” orang lain dan takut suatu hari ketidakmampuannya akan terbongkar.
Walaupun tidak termasuk gangguan mental, imposter syndrome dapat berdampak besar pada kehidupan seseorang, baik secara emosional maupun profesional.
Tanda dan Gejala Imposter Syndrome
1. Merasa Tidak Layak atas Pencapaian
Meskipun orang lain mengakui kemampuan atau prestasi yang diraih, penderita merasa itu hanya keberuntungan atau faktor eksternal.
2. Perfeksionisme Berlebihan
Selalu merasa harus menghasilkan pekerjaan yang sempurna sehingga kesalahan kecil bisa dianggap sebagai kesalahan besar.
3. Takut Gagal Secara Berlebihan
Ketakutan bahwa kegagalan akan memperlihatkan inkompetensi sehingga membuat seseorang bekerja terlalu keras.
4. Membandingkan Diri dengan Orang Lain
Sering merasa inferior dan percaya bahwa orang lain banyak yang lebih kompeten.
5. Meremehkan Kemampuan Sendiri
Menganggap keterampilan atau pengetahuan sendiri biasa saja, padahal sebenarnya lebih dari itu.
Penyebab Imposter Syndrome
1. Pola Asuh dan Pengalaman Masa Kecil
Tekanan untuk selalu berprestasi atau sering dibandingkan saat kecil dapat berpotensi dalam menanamkan perasaan tidak cukup mampu.
2. Lingkungan Kerja atau Akademik yang Kompetitif
Tuntutan tinggi dapat membuat seseorang merasa tidak pernah cukup baik.
3. Standar Pribadi yang Terlalu Tinggi
Perfeksionisme juga dapat memicu rasa tidak puas dan meragukan diri, meski sebenarnya sudah melakukan yang terbaik.
4. Rendahnya Self-Esteem
Kurangnya kepercayaan diri dapat membuat penerimaan terhadap kelebihan diri sendiri sulit.
Dampak Imposter Syndrome
- Stres dan cemas yang berkepanjangan
- Burnout akibat terlalu keras dalam bekerja
- Menolak peluang baru karena takut gagal
- Depresi dan turunnya kualitas hidup
- Perkembangan karier yang terhambat
Cara Mengatasi Imposter Syndrome
1. Sadari dan Akui Perasaan Tersebut
Langkah pertama adalah mengenali bahwa perasaan tidak layak itu merupakan pola pikir, bukan fakta.
2. Catat Pencapaian dan Kemampuan
Menyimpan jurnal prestasi dapat membantu untuk melihat bukti nyata tentang kompetensi diri.
3. Berhenti Membandingkan Diri
Fokus pada perkembangan diri, bukan pada orang lain karena seperti kalimat yang pernah Maudy Ayunda kutip bahwa ketika anda merasa paling tidak tahu di sebuah komunitas maka anda adalah orang yang paling banyak belajar.
4. Belajar Menerima Pujian
Terima apresiasi dari orang lain tanpa meremehkannya.
Katakan “terima kasih” alih-alih menganggap pencapaian yang diraih datang dari keberuntungan.
5. Bicarakan dengan Orang Terpercaya
Diskusi dengan teman, mentor, atau profesional dapat memberikan perspektif yang lebih luas.
6. Kurangi Perfeksionisme
Belajar bahwa kesalahan adalah bagian dari proses belajar, bukan bukti yang datang dari ketidakmampuan.



