Bhakti Lintas Agama 2026, Merekatkan Bangsa dari Bogor untuk Indonesia, Dedie A Rachim : Perbedaan Keyakinan Tidak Menjadi Sekat, Tetapi Menjadi Kekuatan Bangsa

Bagikan

BOGOR, KORAN INDONESIA – Bhakti Lintas Agama 2026 yang digelar di Madrasah Aliah Negeri (MAN) 1 kota Bogor, Jalan Terapi Raya No 11A, Kelurahan Menteng, Kecamatan Bogor Barat, merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Amal Bhakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama Republik Indonesia, dengan mengusung tema Merekatkan Bangsa dari Bogor untuk Indonesia.

Giat tersebut diinisiasi oleh Kementerian Agama Kota Bogor, diikuti sekitar 300 peserta yang berasal dari berbagai elemen masyarakat serta pemeluk agama yang berbeda. Kegiatan ini dirancang sebagai ruang perjumpaan lintas iman untuk menegaskan bahwa perbedaan keyakinan bukanlah penghalang dalam membangun persatuan, toleransi, serta kepedulian sosial.

Acara tersebut, dihadiri Wali kota Bogor, Dedie A Rachim beserta jajaran Pemkot Bogor, Brigjen TNI Thomas Rajunio, Danrem 061/Suryakancana, Marsma TNI F. Picaulima, Danlanud ATS, Kolonel Kav Gan Gan Rusgandar, Dandim 0606/Kota Bogor.
Selain itu, hadir pula para tokoh atau pemuka lintas agama diantaranya Habib Lutfi Bin Yahya (Tokoh Islam) dan tokoh serta agama Katolik, Kristen, Hindu, Buddha, hingga Khonghucu, yang menunjukkan kuatnya komitmen kebersamaan dalam keberagaman.

Giat Bhakti Lintas agama turut dimeriahkan dengan seni budaya Barongsai, Hadrah, angklung dan pentas tari Bali sebagai simbol keharmonisan budaya dalam bingkai persaudaraan lintas iman dan turut menyemarakkan acara tersebut digelarnya pameran serta bazar UMKM kota Bogor.

Ketua Pelaksana kegiatan sekaligus Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Bogor H. Dede Supriatna dalam sambutannya menegaskan bahwa Bhakti Lintas Agama merupakan wujud nyata komitmen Kementerian Agama dalam menjaga, merawat, dan menguatkan kerukunan umat beragama.

“Melalui Bhakti Lintas Agama ini, kami ingin menegaskan bahwa perbedaan adalah anugerah. Dari perbedaan itulah lahir kekuatan persatuan, kepedulian, dan gotong royong. Bogor kami jadikan contoh bahwa kerukunan tidak hanya menjadi slogan, tetapi diwujudkan dalam aksi nyata,” ujar H. Dede Supriatna Senin, 12/01/2026.

Menurut dia, beragam kegiatan sosial menjadi inti dari pelaksanaan Bhakti Lintas Agama 2026, di antaranya apel solidaritas lintas agama, doa bersama, ceramah kebangsaan, bakti sosial, donor darah, pemeriksaan kesehatan gratis, aksi bersih rumah ibadah, pentas budaya, serta bazar UMKM. Seluruh rangkaian tersebut mencerminkan kolaborasi nyata lintas iman dalam pelayanan dan pengabdian kepada masyarakat.

Kegiatan ini lanjut H Dede, juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat untuk terus menumbuhkan sikap saling menghormati, toleran, serta peduli terhadap sesama, terutama di tengah dinamika dan tantangan sosial yang semakin kompleks.

Sementara itu, Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim dalam sambutannya menegaskan bahwa Bhakti Lintas Agama merupakan refleksi kuat kehidupan masyarakat Kota Bogor yang majemuk, namun tetap hidup dalam suasana harmonis dan damai. Menurutnya, perbedaan keyakinan tidak seharusnya menjadi sekat, melainkan menjadi kekuatan untuk bersatu dalam aksi kemanusiaan dan kebangsaan.

Dedie juga menekankan bahwa kepedulian sosial merupakan bahasa universal yang mampu menyatukan seluruh elemen bangsa tanpa memandang latar belakang agama maupun budaya. Momentum Bhakti Lintas Agama ini diharapkan dapat terus memupuk semangat toleransi, menjaga kondusivitas daerah, serta meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat yang membutuhkan.

Tausiah Kebangsaan

Momentum kebersamaan lintas iman semakin dipertegas melalui tausiah kebangsaan yang disampaikan oleh Habib Luthfi bin Yahya. Dalam tausiahnya, Habib Luthfi menekankan bahwa cinta tanah air merupakan bagian dari nilai keimanan, serta menjaga persatuan bangsa adalah tanggung jawab seluruh anak bangsa tanpa memandang perbedaan agama, suku, maupun budaya.

Habib Luthfi mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus merawat persaudaraan dan menjadikan keberagaman sebagai kekuatan bangsa. Menurutnya, Indonesia berdiri kokoh karena persatuan dan sikap saling menghormati, sehingga perbedaan tidak boleh dijadikan alasan untuk saling mencurigai atau memecah belah.

“Kerukunan umat beragama adalah pondasi utama dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” Tandas Habib Lutfi bin Yahya.***

Scroll to Top