BANDUNG, KORAN INDONESIA – Tema keluarga menjadi tema selanjutnya setelah mistis yang sudah bertambah banyak.
Sehingga menjadi tanda juga bahwa perfilman di Indonesia mengalami kemajuan yang cukup signifikan dengan menambah warna.
Selain itu, kualitas cerita juga semakin meningkat karena otentik dan film-film Indonesia akhirnya berpotensi untuk menjadi jembatan dalam mengenalkan budaya serta dinamika sosial-nya.
Salah satunya dinamika sosial yang terjadi saat lebaran. Bagi masyarakat Indonesia yang beragama Islam, berkumpul saat lebaran sudah menjadi budaya tiap tahun.
Karenanya, apa yang terjadi di setiap keluarga besar akan berbeda-beda. Namun, terdapat beberapa hal yang secara umum dialami seperti menghadapi pertanyaan-pertanyaan basa-basi seperti “kapan wisuda?” dan lain-lain.
Di film ini, cerita berfokus pada Arga, salah satu anak laki-laki yang tiap tahunnya selalu mendapat pertanyaan-pertanyaan semacam itu.
Mengingat keluarga Arga juga berekonomi paling rendah di keluarga besarnya sehingga ekspektasi keluarga kepada Arga cukup besar.
Positifnya, Arga menjadikan pertanyaan-pertanyaan itu sebagai bahan bakar, tidak mengabaikan-nya begitu saja.
Secara umum, film ini berhasil memberikan pemahaman yang jelas kepada penonton, salah satunya mengenai emosi Arga di setiap kejadian-kejadian besar yang dialaminya.



