BANDUNG, KORAN INDONESIA – Kemampuan anak dalam berbahasa dapat berpengaruh besar terhadap tahap perkembangannya.
Di masa kini, penguasaan lebih dari satu bahasa menjadi nilai tambah dan bermanfaat.
Namun, sejak usia berapa anak sebaiknya mulai belajar bahasa kedua?
Berbagai ahli bahasa dan perkembangan anak telah meneliti hal ini dan hasilnya menunjukkan bahwa semakin dini anak dikenalkan dengan bahasa kedua, semakin besar pula peluang keberhasilannya.
Periode Emas
Menurut teori Critical Period Hypothesis yang dikemukakan oleh Eric Lenneberg, terdapat periode kritis dalam perkembangan bahasa manusia, yaitu sejak lahir hingga sekitar usia pubertas.
Pada masa ini, otak anak masih sangat fleksibel dan mudah untuk menyerap bahasa secara alami.
Lebih lanjut, penelitian dari American Academy of Pediatrics menyebutkan bahwa usia 0–3 tahun merupakan masa yang sangat sensitif/optimal bagi anak untuk mengenal lebih dari satu bahasa.
Pada fase ini, anak sudah mampu membedakan berbagai bunyi bahasa dengan lebih mudah dibandingkan orang dewasa.
Pendapat Ahli mengenai Perkembangan Anak
Jean Piaget menyatakan bahwa anak usia dini berada pada tahap sensorimotor dan praoperasional, dimana mereka belajar melalui pengalaman langsung dan interaksi.
Dalam konteks bahasa, hal ini berarti anak lebih mudah menyerap bahasa kedua jika diperkenalkan melalui komunikasi sehari-hari, bukan hafalan.
Sementara itu, Lev Vygotsky menekankan pentingnya interaksi sosial dalam pembelajaran bahasa.
Ia berpendapat bahwa lingkungan yang mendukung sangat berperan dalam keberhasilan bilingualisme seperti anak yang belajar bahasa melalui komunikasi dengan orang di sekitarnya.
Usia 7 Tahun ke Atas
Meskipun usia dini dianggap ideal, bukan berarti anak yang lebih besar tidak bisa belajar bahasa kedua.
Menurut penelitian Stephen Krashen, anak-anak dan bahkan orang dewasa tetap dapat menguasai bahasa kedua, meskipun prosesnya mungkin lebih lambat dan membutuhkan usaha lebih.
Pada usia sekolah (7 tahun ke atas), anak biasanya sudah memiliki kemampuan kognitif yang lebih matang sehingga mereka dapat memahami aturan tata bahasa dengan lebih baik.
Namun, pelafalan (pronunciation) mungkin tidak sealamiah anak yang sudah belajar sejak dini.



