KETAHANAN PANGAN ! Bumdes Citrawangi Neglasari Bogor Panen Raya Hasilkan 12 Ton Ayam Broiler, 900 Ekor Ayam Mati Diduga Terkendala Cuaca Panas !

Bagikan

BOGOR, KORAN INDONESIA – Program ketahanan pangan yang di kelola Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Citrawangi, desa Neglasari, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, yakni peternakan ayam broiler kini menunjukkan hasil yang bagus, hal itu terlihat dari panen raya ayam broiler diperkirakan menghasilkan 12 ton pada Sabtu, 02/05/2026.

Peternakan ayam sejak pertama kali dikelola Bumdes Citrawangi Januari – Mei 2026, sudah dua periode masa panen, pada panen periode I menghasilkan sebanyak 12 ton saat menjelang lebaran lalu dan pada periode II panen ayam bertepatan dengan Hardiknas diperkirakan hasil panen sama dengan hasil panen periode pertama.

Pengelola peternakan ayam, Sakija menuturkan kepada Koran Indonesia.net bahwa ayam yang dipanen sekarang merupakan hasil peternakan periode II penebaran DOC sebanyak 9.300 ekor.

“Total DOC (Day Old Chick) yang kami tebar di kandang lantai dasar dan lantai dua masing – masing 4.650 ekor, totalnya 9.300 ekor. Saat dilakukan penjarangan telah dipanen sekitar 5.500 ekor atau sekitar 7 ton, dan sisanya yang kita panen hari ini sekitar 2.900 ekor, dengan bobot rata – rata 1,7 kilogram, dan diperkirakan hasil panen mencapai 4,9 ton,” ungkapnya.

Kendala Cuaca diduga Penyebab Kematian Ayam

Selanjutnya Sakija juga mengungkapkan bahwa pada periode II DOC memang ditambah, dengan harapan hasilnya bisa lebih banyak, namun pada proses pembesaran ayam terkendala cuaca (panas) diduga menyebabkan ayam banyak yang mati, meskipun kandang sudah dilengkapi kipas blower yang cukup.

“Cuaca panas menjadi dugaan ayam banyak yang mati, karena tidak tahan panas, sehari bisa 30 – 35 ekor yang mati, dan sampai saat panen ini masih tetap ada yang mati, dan totalnya mencapai 900 ekor ayam yang mati,” jelas Sakija.

Tentunya ini akan menjadi bahan evaluasi ke depan, khususnya pada periode III DOC mungkin akan tetap dipertahankan diangka 8.000 untuk dua lantai kandang, untuk meminimalisir risiko kematian ayam, karena memang cuaca akhir – akhir ini sangat panas.

Terpisah di lokasi yang sama, Kosasih Irvan yang hadir menyaksikan panen ayam mengatakan bahwa memang akhir – akhir ini cuaca sangat panas sehingga berpengaruh terhadap kesehatan ayam, pada periode pertama tingkat kematian ayam minim, namun saat ini kematiannya cukup signifikan.

“Ini sebuah risiko, yang namanya usaha pasti ada risiko, namun demikian kami pemerintah desa Neglasari tetap support tetap mendukung apa yang akan dilakukan Bumdes,” tegasnya.

Selanjutnya Ia mengungkapkan program ketahanan pangan sejak 2022 direalisasikan ke peternakan domba, perikanan, dan peternakan ayam, dan sampai saat ini masih eksis, ada bisa dipertanggung jawabkan.

“Dan peternakan ayam ini cukup menjanjikan, diantara program Ketapang yang lainnya, peternakan ayam perputaran uangnya cepat, meskipun saat ini baru bisa memenuhi kebutuhan biaya operasional saja, namun kami optimis ke depan bisa menguntungkan untuk Bumdes ada mungkin bisa ada pemasukan untuk PADesa dari peternakan ayam ini,” Imbuhnya.

Lalu Ia juga menyebut program ketahanan pangan 2026 akan direalisasikan ke sektor pertanian, yakni menanam terong ungu di lahan dekat hutan kota dan kolam Bio-flok untuk Budi daya pembesaran ikan nila, gurame dan bawal.

“Kami harapkan program ketahanan pangan ini terus berkembang membawa kemajuan untuk desa Neglasari, bisa bermanfaat untuk masyarakat dan bisa menghasilkan sesuatu untuk PADesa dengan tujuan utamanya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,”pungkasnya.***

Scroll to Top