BOGOR KORAN INDONESIA – Menyemarakkan rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Bogor yang ke-544, Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Dramaga secara khidmat menghadiri prosesi adat pengambilan tanah dari Mandala Giri Wisesa atau orang Situ Uncal menyebutnya Kp Kapuhunan dan air dari sumber mata air Tirta Talaga Pawitra dari kawasan Situ Uncal. Kegiatan yang sarat makna sejarah dan budaya ini dilaksanakan di Desa Purwasari Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, pada Jumat, 19/06/2026.
Prosesi ini merupakan bagian penting dari tradisi tahunan yang telah dijalankan, di mana setiap wilayah di Kabupaten Bogor diminta menyerahkan dua unsur alam yang dianggap sakral dan penuh makna, yaitu air dan tanah. Unsur-unsur tersebut nantinya akan dibawa dalam helaran budaya puncak peringatan Hari Jadi Bogor ke – 544 dan disatukan di Alun-Alun Kabupaten Bogor sebagai lambang persatuan, keberagaman, dan kebersamaan seluruh elemen masyarakat dari hulu hingga hilir.
Sumber mata air Tirta Talaga Pawitra yang menjadi sumber air dalam prosesi ini, bukan sekadar sumber mata air biasa. Bagi masyarakat desa Purwasari, sumur ini memiliki nilai sejarah yang tinggi, dipercaya telah ada sejak zaman dahulu dan menjadi saksi bisu perjalanan kehidupan masyarakat setempat. Air yang diambil melambangkan sumber kehidupan, kesuburan, serta harapan agar Kabupaten Bogor senantiasa diberkahi kesejahteraan dan kelancaran dalam setiap langkah pembangunannya.

Sementara itu, tanah yang diambil berasal dari kawasan Mandala Giri Wisesa atau Kp Kapuhunan, sebuah lokasi yang menyimpan jejak patilasan dan peninggalan leluhur yang sangat berharga. Tanah ini dipilih sebagai representasi akar sejarah, identitas asli, dan kearifan lokal yang telah diwariskan turun-temurun. Setiap butir tanah yang diambil mengandung nilai perjuangan, ketabahan, dan jati diri masyarakat Purwasari, Kecamatan Dramaga yang harus terus dijaga agar tidak luntur dimakan zaman.
Prosesi berlangsung dengan suasana yang sakral dan penuh penghormatan, dengan melapalkan doa bersama sebelum pengambilan tanah dan air, dihadiri langsung oleh unsur Forkopimcam Dramaga, jajaran Pemerintah Desa Purwasari, tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda, serta diikuti antusias oleh warga masyarakat.
Camat Dramaga, Atep S Sumaryo mengatakan dalam rangka rangkaian HJB Bogor ke 544, Bupati Bogor Rudy Susmanto dan Wakil Bupati Bogor Ade Ruhandi mencanangkan nilai – nilai luhur dari masing – masing wilayah, kegiatan ini dinamakan ngalokacai di masing – masing Kecamatan.
“Tujuan dari kegiatan ini agar masyarakat tidak melupakan sejarah, di Situ Uncal wetan ini terdapat mata air yang memiliki nilai sejarah dan didekatnya dibangun sebuah mushola,” katanya.
Sumber mata air ini lanjut Atep airnya jernih dan tidak pernah kering meskipun saat musim kemarau, bahkan menurut informasi tokoh masyarakat ketika kemarau justru debit airnya semakin banyak.
Peninggalan sejarah ini, sudah selayaknya masyarakat saat ini wajib menjaganya agar nilai – nilai yang terkandung dalam sejarah tidak punah ditelan zaman, justru harus tetap dijaga dan terjaga kelestariannya, jangan dirusak, dan Ia mengingatkan pesan Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi ‘Ulah Ngarogahala Gunung Salak’, maka ketika gunung salak dirogahala maka tunggu kehancurannya.

“Kami melaksanakan pengambilan tanah dan air di desa Purwasari, karena kami tidak akan melupakan sejarah, di Kecamatan Dramaga, desa Purwasari memiliki nilai sejarah sejak zaman kerajaan dahulu, itu bisa dibuktikan dengan adanya batu kujang atau batu Semar, juga adanya tempat patilasan,” ujarnya.
Kemudian Ia mengaku telah menyampaikan informasi kepada Menteri Pendidikan dan kebudayaan perihal adanya peninggalan sejarah, adanya batu kujang atau batu Semar dan juga patilasan kerajaan, dengan harapan batu kujang dan patilasan itu bisa dinobatkan menjadi situs budaya yang dilindungi.
“Dengan diambilnya tanah dan air dari Kp Situ Uncal wetan kami berharap membawa keberkahan untuk masyarakat Kecamatan Dramaga khususnya, umumnya Kabupaten Bogor, untuk mewujudkan Kecamatan Dramaga Tohaga dan Kabupaten Bogor Istimewa,” Imbuhnya.
Kepala Desa Purwasari, Yusuf Mustopa tampak hadir mengenakan pakaian putih dengan totopong sebagai bentuk penghormatan mendalam terhadap warisan budaya dan leluhur yang telah mendahului.
Dalam kesempatan tersebut, Kades Purwasari, Yusuf Mustopa menyampaikan rasa syukur dan kebanggaan yang mendalam atas kepercayaan yang diberikan kepada desanya. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremonial biasa, melainkan sebuah amanah besar untuk terus melestarikan apa yang telah ditinggalkan oleh para leluhur.
“Kami mengucapkan terima kasih, dan kami kagum kepada pak Camat, dalam ritual lemah cai pengambilan air dan tanah itu, pak camat mengambil tanah terlebih dahulu baru mengambil air, itu merupakan tatacara yang benar,”Pungkasnya.***



