Silsilah Patilasan Mandala Giri Wisesa dan Mata Air Tirta Talaga Pawitra Warisan Budaya Diungkap Kades Yusuf Mustopa Saat Prosesi Pengambilan Tanah & Air untuk Helaran Budaya HJB Bogor ke 544 !

Bagikan

BOGOR KORAN INDONESIA – Desa Purwasari Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor ternyata menyimpan situs bersejarah yang melegenda sejak zaman kerajaan Pajajaran dan Kerajaan Mulawarman hingga saat ini. Pasalnya di desa Purwasari tepatnya di Kp Situ Uncal Wetan terdapat titik (tugu) patilasan Mandala Giri Wisesa, batu kujang dan mata air Tirta Talaga Pawitra yang dianggap oleh masyarakat memiliki nilai – nilai sejarah, oleh karenanya tidak aneh tempat patilasan itu banyak dikunjungi masyarakat untuk berziarah.

Akses menuju titik lokasi patilasan Mandala Giri Wisesa dari jalan raya sekitar satu kilometer melawati anak tangga yang mirip dengan tempat ziarah di Cikundul Kabupaten Cianjur, lalu menyusuri jalan setapak melewati pemakaman dan melalui jalan (galengan) kebun milik warga di wilayah RW 04 Kp Situ Uncal Purwasari Bogor.

Konon menurut cerita tokoh masyarakat dan tokoh agama setempat, situs patilasan Mandala Giri Wisesa banyak dikunjungi para peziarah, khususnya pada malam Jumat dan hari – hari yang dianggap sakral untuk melaksanakan ritual do’a, hal itu terbukti dengan adanya bekas parukuyan (tempat membakar menyan) dan tempat sesajen.

Para pengunjung atau para peziarah sebelum mencapai titik lokasi patilasan Mandala Giri Wisesa akan melewati batu kujang yang terletak di tengah kebun dekat pemakaman warga, dengan posisi seperti menancap di tanah.

Peninggalan sejarah batu kujang Ciung di Kp Situ Uncal Purwasari/Asof/Koran Indonesia//

Untuk mengetahui cikal bakal warisan budaya leluhur, Inilah silsilah sejarah singkat patilasan Mandala Giri Wisesa, Baru Kujang dan Mata Air Tirta Talaga Pawitra yang diungkapkan Kades Purwasari, Yusuf Mustopa saat mendampingi Camat Dramaga, Atep S Sumaryo melaksanakan prosesi pengambilan tanah dan air dari situs bersejarah tersebut untuk kepentingan Helaran Budaya HJB Bogor ke 544.

Batu Kujang Ciung/ Batu Semar

Menurut cerita legenda yang berkembang di tengah masyarakat kata Yusuf batu ini dinamakan batu kujang Ciung atau batu Semar, karena bentuknya menyerupai senjata kujang dan menyerupai Semar dalam pewayangan, batu ini bagian yang tak terpisahkan dengan Mandala Giri Wisesa (Kamandalaan).

“Batu berbentuk kujang ini menurut para ahli yang datang sudah ada sejak zaman Sunda pura, ada keterkaitannya dengan Cirahong, Situ Uncal dengan Dukuh Kempun,” Jelas Yusuf.

Patilasan Mandala Giri Wisesa

Selanjutnya kata Yusuf tempat ini merupakan Punden berundak diberi nama Mandala Giri Wisesa itu memiliki makna Mandala itu tempat, Giri itu tinggi bukit atau gunung, dan Wisesa itu tempat terakhir. Jadi Purwasari itu dataran pertemuan empat RW (Orang sini menyebutnya Dukuh Kempun).

“Dukuh itu perkampungan Kempun itu wilayah Kapuhunan, jadi dulunya itu merupakan Balekambang atau tempat pamunjungan, tempat berdiskusi menurut catatan sejarah yang ada,” ucapnya.

Sehingga lanjut Yusuf Purwasari dengan Tenjolaya itu pa eunteung – eunteung (saling berhadapan) disana ada batu korsi di sini batu kujang. “Batu kujang di Purwasari adalah jenis Kujang Ciung Purba,” tegasnya.

Mata Air Tirta Talaga Pawitra

Selain batu kujang ciung purba dan patilasan Mandala Giri Wisesa di Purwasari juga terdapat mata air yang jernih dan tidak pernah berhenti mengalir air dari dalam perut bumi, mata air tersebut kata Yusuf oleh masyarakat adat di Purwasari diberi nama Tirta Talaga Pawitra.

“Mata air Tirta Talaga Pawitra yang keluar dari perut bumi, pada area seluas 40 hektar di bawahnya itu air, dan salah satu mata airnya di sini di situ uncal Purwasari,” Yusuf kembali menjelaskan.

Di bawah bumi Purwasari ini sangat berlimpah air, meski aliran sungai Cihideung kering namun mata air ini tidak pernah kering, bahkan ketika kemarau justru debit air yang keluar semakin banyak.

“Berdasarkan penelitian ahli sumber mata air ini dari gunung salak, dibawah perut gunung salak itu ada aliran air sepanjang 8 kilometer mengarah ke selatan yakni ke Cidahu Kabupaten Sukabumi, jadi mata air ini terintegrasi dengan mata air di Cidahu,” jelas Yusuf.

Kandungan dan Khasiat kegunaan air

Menurut penelitian ahli pada tahun 2016, air ini memiliki pH 7, kandungan besi dan lain – lain ringan, sehingga air ini layak diminum meskipun tanpa dimasak terlebih dahulu, rasanya enak, ada rasa manis – manisnya.
Selain itu, air ini juga dipercaya oleh masyarakat dapat menyembuhkan berbagai penyakit serta bermanfaat untuk mengairi persawahan dan pertanian dan membawa keberkahan dalam peradaban kehidupan manusia.

“Di dekat mata air dibangun mushola tempat ibadah, air ini digunakan juga untuk berwudhu, mandi dan konsumsi air minum untuk masyarakat, kami berharap air ini terus mengalir sepanjang masa,” pungkas Yusuf.***

 

Scroll to Top