KORANINDONESIA, Jakarta – Komitmen terhadap pendidikan inklusif kembali diwujudkan melalui peluncuran Buku Saku “Menjadi Trainer Literasi Digital yang Inklusif dan Empatik untuk Segmen Disabilitas”, yang dilaksanakan pada Minggu, 11 Oktober 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), dalam rangkaian kegiatan DNIKS Gerak Inklusif 2026.
Buku saku ini merupakan hasil kolaborasi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara (UMN) dan Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS), dengan melibatkan perspektif dan pengalaman para penyandang disabilitas dalam proses pelatihan literasi digital.
Peluncuran buku saku tersebut menjadi bagian penting dari sektor pendidikan inklusif yang menjadi salah satu perhatian utama DNIKS Gerak Inklusif 2026. Melalui buku ini, DNIKS bersama UMN berupaya mendorong agar kegiatan literasi digital bagi penyandang disabilitas tidak hanya berorientasi pada penyampaian materi, tetapi juga memperhatikan cara berkomunikasi, kebutuhan aksesibilitas, karakteristik peserta, pengalaman personal, serta pendekatan pembelajaran yang empatik dan inklusif.
Membangun Trainer yang Tidak Hanya Cakap Digital, tetapi Juga Inklusif dan Empatik
Ketua Program DNIKS Gerak Inklusif 2026, RA. Loretta Kartikasari, SE., MM., M.IKom., PhD.C, mengatakan bahwa transformasi digital harus diikuti dengan kemampuan untuk memastikan bahwa setiap orang dapat memperoleh manfaat dari perkembangan teknologi.
Menurutnya, penyandang disabilitas memiliki hak yang sama untuk memperoleh akses terhadap informasi, teknologi dan pendidikan digital. Namun, tersedianya teknologi saja belum cukup apabila proses pembelajarannya tidak dirancang dengan pendekatan yang inklusif.
“Literasi digital untuk penyandang disabilitas tidak cukup hanya dengan mengajarkan bagaimana menggunakan teknologi. Seorang trainer juga harus memahami siapa peserta yang dihadapinya, apa kebutuhan aksesibilitasnya, bagaimana cara berkomunikasi yang tepat, serta bagaimana menciptakan suasana belajar yang aman, nyaman dan menghargai setiap individu,” ujar RA. Loretta Kartikasari.
Loretta menambahkan, keterlibatan penyandang disabilitas dalam proses penyusunan dan pengembangan materi menjadi hal penting agar program literasi digital tidak hanya dibuat tentang penyandang disabilitas, tetapi juga bersama penyandang disabilitas.
“Buku saku ini lahir dari semangat bahwa kita tidak boleh berbicara tentang inklusi tanpa mendengarkan suara teman-teman disabilitas. Pengalaman mereka menjadi sumber pembelajaran penting untuk membangun trainer yang lebih sensitif, adaptif dan empatik,” tambahnya.
Penyandang Disabilitas Tidak Hanya Menjadi Peserta, tetapi Juga Sumber Pengetahuan
Salah satu pendekatan yang menjadi nilai penting dari buku saku ini adalah keterlibatan narasumber penyandang disabilitas dalam proses pelatihan literasi digital.
Pendekatan tersebut menunjukkan perubahan paradigma dalam pendidikan inklusif: penyandang disabilitas tidak ditempatkan hanya sebagai penerima manfaat, tetapi juga sebagai subjek, narasumber, mitra pembelajaran dan sumber pengetahuan.
Pengalaman langsung para penyandang disabilitas dapat memberikan perspektif yang tidak selalu dapat diperoleh hanya melalui teori. Mereka dapat menjelaskan secara langsung bagaimana hambatan akses teknologi dialami, bagaimana materi pembelajaran diterima, serta bentuk komunikasi dan fasilitas apa yang benar-benar membantu. Dengan pendekatan tersebut, buku saku diharapkan dapat membantu trainer memahami bahwa ragam disabilitas membutuhkan pendekatan yang beragam pula.
Kolaborasi Kampus dan Organisasi Sosial
Buku saku “Menjadi Trainer Literasi Digital yang Inklusif dan Empatik untuk Segmen Disabilitas” merupakan salah satu bentuk kolaborasi antara Magister Ilmu Komunikasi UMN dan DNIKS.
Kolaborasi ini mempertemukan kekuatan akademik, pengalaman praktis dan perspektif penyandang disabilitas dalam menghasilkan materi yang dapat digunakan oleh para trainer maupun pihak yang terlibat dalam program literasi digital.
Dalam kegiatan peluncuran, buku saku tersebut juga melibatkan sejumlah tokoh dan narasumber, antara lain Regina Megumi Tandiari, RA. Loretta Kartikasari, Dr. Nuria Astagini, M.Si., dan Richard Yufri Arsep.
Keterlibatan berbagai perspektif tersebut memperkuat pesan bahwa pendidikan inklusif membutuhkan kolaborasi lintas disiplin dan lintas pengalaman.



