DNIKS Luncurkan “Gerak Inklusif 2026”: Perluas Gerakan Penghormatan, Perlindungan dan Pemberdayaan Penyandang Disabilitas

Bagikan

 

KORANINDONESIA, Jakarta – Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS) kembali memperkuat komitmennya terhadap terwujudnya masyarakat yang inklusif melalui peluncuran kampanye “DNIKS Gerak Inklusif 2026”, sebuah rangkaian program yang akan berlangsung pada Oktober–Desember 2026.

Gerakan ini menjadi bagian dari kesinambungan berbagai inisiatif DNIKS pada tahun-tahun sebelumnya sekaligus memperluas ruang partisipasi penyandang disabilitas dalam berbagai sektor kehidupan. Pada tahun 2026, DNIKS Gerak Inklusif diarahkan untuk menjangkau sedikitnya empat ruang strategis, yaitu kesehatan, pendidikan, budaya dan hiburan, serta perekonomian dan kewirausahaan.

Kampanye ini juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan dalam menyambut dan memperingati Hari Disabilitas Internasional 2026, dengan semangat untuk menjadikan isu disabilitas tidak hanya hadir dalam momentum peringatan, tetapi menjadi gerakan sosial yang berkelanjutan.

Loretta Kartikasari: Inklusi Harus Bergerak dari Komitmen Menjadi Aksi

Program DNIKS Gerak Inklusif 2026 diketuai oleh RA. Loretta Kartikasari, SE., MM., M.IKom., PhD.C, yang selama sekitar satu dekade aktif dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan penghormatan, perlindungan, dan pemberdayaan penyandang disabilitas.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu landasan dalam merancang Gerak Inklusif 2026 agar tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi menghadirkan ruang yang lebih luas bagi penyandang disabilitas untuk berpartisipasi, mengembangkan potensi, memperoleh akses, serta berdaya secara sosial dan ekonomi.

“Gerak Inklusif bukan sekadar sebuah kampanye, tetapi sebuah ajakan untuk bergerak bersama. Inklusi harus hadir dalam kehidupan sehari-hari—dalam pendidikan, kesehatan, budaya, ruang hiburan, hingga kesempatan ekonomi dan kewirausahaan. Penyandang disabilitas bukan hanya penerima manfaat, tetapi juga pelaku, penggerak dan bagian penting dari pembangunan,” ujar RA. Loretta Kartikasari.

Menurutnya, keberlanjutan gerakan menjadi penting karena persoalan disabilitas memiliki dimensi yang luas dan membutuhkan kolaborasi lintas sektor.

“Kita ingin membangun ekosistem yang memungkinkan setiap orang, termasuk penyandang disabilitas, memiliki kesempatan yang setara untuk belajar, berkarya, bekerja, berwirausaha dan berpartisipasi di tengah masyarakat,” lanjutnya.

Perspektif Ketua Umum DNIKS

Ketua Umum DNIKS, Dr. Effendy Choirie, menegaskan bahwa penghormatan terhadap penyandang disabilitas merupakan bagian penting dari misi Asta Bakti DNIKS; Konsolidasi Organisasi, Kaderisasi, Aksi dan Akselerasi, Mobilisasi Filantropi, Pemberdayaan dan Advokasi, Reproduksi Ide dengan Cendikiawan, Kolaborasi dan Sinergi dengan Orsos dan Opdis, serta Sosialisasi dan Publikasi.

Menurutnya, penyandang disabilitas harus ditempatkan sebagai warga negara yang memiliki martabat, hak, potensi dan kesempatan yang setara. Penghormatan tidak cukup diwujudkan melalui kepedulian atau bantuan sosial semata, tetapi harus diterjemahkan dalam bentuk pengakuan atas hak, penerimaan terhadap keberagaman, perlindungan dari diskriminasi, serta pembukaan ruang partisipasi yang setara dalam kehidupan bermasyarakat.

“Penghormatan terhadap penyandang disabilitas merupakan bagian dari semangat Asta Bakti DNIKS. Kita ingin membangun cara pandang bahwa penyandang disabilitas bukan objek yang hanya menerima bantuan, tetapi merupakan bagian dari masyarakat yang memiliki hak, martabat, kemampuan dan kontribusi. Karena itu, Gerak Inklusif harus menjadi gerakan bersama untuk menghadirkan penghormatan, perlindungan dan pemberdayaan secara nyata,” ujar Dr. Effendy Choirie.

Menurutnya, semangat tersebut menjadi dasar DNIKS untuk terus memperluas kolaborasi lintas sektor agar inklusi dapat hadir dalam pendidikan, kesehatan, kebudayaan, ekonomi, kewirausahaan maupun ruang-ruang sosial lainnya. Dengan demikian, momentum Hari Disabilitas Internasional tidak sekadar menjadi agenda tahunan, tetapi menjadi pengingat untuk terus membangun masyarakat yang menghargai keberagaman dan memastikan tidak ada seorang pun yang tertinggal dalam pembangunan.

 

Scroll to Top