BANDUNG, KORAN INDONESIA – Menikah bukan hanya tentang menyatukan dua hati, melainkan juga menyelaraskan visi misi hidup, nilai dan tujuan jangka panjang.
Sehingga penting untuk mempersiapkannya dengan matang agar memperkecil kemungkinan munculnya konflik yang berkepanjangan dan memperbesar peluang kemudahan dalam menjalani pernikahan.
1. Matang Secara Emosional dan Siap Mental
Ciri-ciri pasangan yang sudah matang secara emosional memiliki:
- kemampuan dalam mengelola emosi
- empati
- keterampilan dalam berkomunikasi
- pola penyelesaian konflik yang sehat
Selain itu, pasangan yang dapat mengungkapkan kebutuhan dan mendengar pasangannya dengan baik cenderung lebih bahagia dalam pernikahan.
2. Mempersiapkan Finansial
Perencanaan finansial merupakan faktor yang tidak bisa dihilangkan karena masalah ekonomi sering menjadi penyebab umum stres dalam berumah tangga.
Sehingga, perlu untuk:
- Memberikan transparansi mengenai penghasilan dan utang.
- Mendiskusikan cara mengelola keuangan, seperti apakah digabung atau terpisah.
- Mengetahui gaya hidup masing-masing, contohnya berapa persen alokasi dana untuk kebutuhan pokok, tabungan dan dana darurat.
Karena pasangan yang memiliki perencanaan keuangan bersama cenderung lebih stabil secara ekonomi.
3. Melakukan Pemeriksaan Kesehatan Pra-Nikah
Banyak negara dan lembaga kesehatan menyarankan medical check-up sebelum menikah untuk:
- mendeteksi penyakit menular
- mengetahui kondisi kesehatan reproduksi
- mengidentifikasi penyakit genetik
- perencanaan kehamilan
Karenanya, penting untuk melakukan skrining kesehatan reproduksi sebagai upaya dalam mencegah penularan penyakit dan komplikasi kehamilan.
4. Mendiskusikan Nilai, Agama, dan Prinsip Hidup
Biasanya, ketidakselarasan visi dan misi hidup dapat menjadi sumber persoalan.
Sehingga perlu untuk membahas:
- keagamaan dan praktik ibadah
- pandangan mengenai peran suami atau istri dalam berumah tangga
- batasan dan prinsip dalam berhubungan sosial
- pandangan tentang kesetiaan dan komitmen
Keselarasan nilai-nilai yang dipegang adalah salah satu faktor yang berpengaruh besar karena berkaitan erat dengan cara menjalani hidup.
5. Pandangan terhadap Masa Depan
Sebelum menikah, pasangan perlu membicarakan:
- apakah ingin memiliki anak atau tidak
- jumlah anak
- pembagian peran dalam pekerjaan dan rumah tangga
- tempat tinggal (mandiri, kontrak, atau dengan keluarga)
Konflik yang biasanya muncul pada tahun-tahun awal pernikahan seringkali berkaitan dengan pembagian peran dan ekspektasi yang tidak dibicarakan sejak awal.
6. Relasi dengan Keluarga Besar
Keluarga besar juga berpotensi memiliki pengaruh dalam kehidupan rumah tangga.
Karenanya, perlu untuk membicarakan:
- batasan
- cara berkomunikasi dengan keluarga pasangan
- kesepakatan tentang seberapa besar keterlibatan keluarga dalam keputusan rumah tangga.
Kemungkinan besar, pasangan yang berusaha untuk menetapkan batasan yang sehat dengan keluarga besar dapat memiliki tingkat stres yang lebih rendah.
7. Legalitas dan Administrasi Pernikahan
Persiapan yang bersifat administratif:
- dokumen identitas
- persyaratan dari lembaga agama atau negara
- perjanjian pranikah bila diperlukan
- status legal barang bersama
Perjanjian pranikah tidak selalu negatif karena justru dapat melindungi hak masing-masing pihak dan meminimalkan konflik aset jika suatu hari terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
8. Kesiapan untuk Berkompromi
Pernikahan adalah proses saling menyesuaikan dan kesiapan untuk:
- bertoleransi
- menerima kekurangan
- mengalah saat perlu
- membangun keputusan bersama
Dengan kata lain, kompromi dan fleksibilitas adalah kunci bagi pasangan yang ingin melanggengkan pernikahan.



