JAKARTA, KORAN INDONESIA – Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan (PDIP) Edy Wuryanto mengomentari adanya perbedaan nasib antara pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan guru honorer yang sedang ramai diperbincangkan.
Menurut Edy, status yang didapatkan pegawai SPPG sebenarnya adalah titik ideal untuk para pekerja di Indonesia dan harus jadi contoh yang baik bagi negara.
“Soal P3K yang selama akhir-akhir ini banyak dikomentari itu, ya memang bagus kalau BGN (Badan Gizi Nasional) bisa mengangkat P3K bagi SPPI, ahli gizi accounting. Bagus tuh, karena di dalam ketenagakerjaan kita yang menjadi concern juga Komisi 9 bahwa setiap pemberi kerja itu wajib mengikuti norma perintah, upah, dan status.” ujar dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Badan Gizi Nasional, Rabu (21/1/2026).
Edy menyebut, ada tiga hal yang wajib dipenuhi oleh pemberi kerja dalam mempekerjakan tenaga kerja, yaitu satu perintah, dua upah, tiga status, sehingga menjadi standar tinggi di Indonesia
“Jadi ini contoh yang baik bagi negara. Kalau ingin mengambil karyawan statusnya harus jelas,” lanjutnya.
Namun, Edy memberikan penekanan bahwa status yang didapatkan oleh pegawai SPPG ini menjadi tidak adil jika dibandingkan dengan guru dan para tenaga kesehatan (nakes).
“Nah yang tidak adil itu kan para nakes dan para guru protes, terutama yang sudah mengabdi lama. Jadi, saya berharap ini menjadi efek domino bagi presiden untuk menyelesaikan P3K yang ada, terutama di tenaga guru dan kesehatan,” tuturnya.
Edy mendorong hal tersebut segera diurus dan didiskusikan dengan Presiden Prabowo Subianto agar protes para guru tidak berlarut-larut.
“Ini jika tidak diurus, nanti protesnya akan berlanjut lanjut. Sopir MBG yang mengantar gajinya lebih tinggi dari guru yang mendidik anak-anak. Mereka kuliahnya berdarah-darah kok tiba-tiba sama negara yang memberi kerja kok perlakuannya berbeda,” pungkasnya.
Viral di media sosial sejumlah guru honorer memprotes kesenjangan gaji yang dinilai timpang dibandingkan dengan sopir program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dalam sebuah video, perwakilan guru honorer menyampaikan keprihatinan karena penghasilan sopir MBG dianggap lebih layak dibanding gaji mereka yang bertugas mencerdaskan anak bangsa.***
View this post on Instagram



