Warga Cikarawang Bogor Mendesak Pemerintah Segera Bangun Jalan Terputus Akibat Longsor, Warga Juga Khawatir Longsor Makin Meluas dan Membahayakan Masyarakat

Bagikan

BOGOR, KORAN INDONESIA – Warga Carang Pulang desa Cikarawang, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor meminta kepada Pemerintah Kabupaten Bogor, Jalan penghubung menuju IPB Dramaga yang mengalami longsor pada bulan November 2025 segera diperbaiki.

Ketua RW 06 Kp Carang pulang desa Cikarawang, Yesi Priatna alias Bray mewakili masyarakat, saat dikonfirmasi Koran Indonesia. Net mengatakan bahwa jalan di wilayahnya mengalami longsor saat dikerjakan pengerjaan betonisasi yang dibiayai dari dana Bantuan Provinsi (Banprov) Jabar tahun 2025.

“Longsor tersebut murni kejadian alam, bukan faktor kelalaian manusia, karena saat kejadian longsor di tengah cuaca hujan deras,” katanya Senin, 23/02/2026.

Akibat longsor tersebut, jalan itu jadi terputus tidak dapat dilalui kendaraan motor, sementara jalan desa tersebut sangat dibutuhkan masyarakat yang akan ke kampus IPB Dramaga, ke wilayah desa Babakan maupun sebaliknya.

“Jalan itu sangat urgen dan sangat kami butuhkan, kami minta pemerintah bisa segera membangun Tembok Penahan Tanah (TPT) agar jalan penghubung itu bisa segera kembali berfungsi seperti sebelumnya,”ujarnya.

Apabila tidak segera dibangun kata Bray, dikhawatirkan terjadi longsor susulan, karena di Bogor curah hujan cukup tinggi, di bawah tebingan yang longsor itu mengalir air sungai Ciapus yang sangat deras. Dan ini akan mengancam keselamatan warga.

Menanggapi keluhan masyarakat, yang menyampaikan laporan langsung kepada Wakil Bupati Bogor, Ade Ruhandi (Jaro Ade) pada 17 Desember 2025, Camat Dramaga, Atep S Sumaryo mengatakan bahwa sesuai arahan dari pimpinan, pihaknya telah melakukan pengecekan kondisi di lapangan.

Bahkan pada saat Musrenbang Kecamatan, kebetulan saat itu pak Wabup hadir, Ia mengaku bersama para kepala desa telah menyampaikan kronologis kejadian longsor tersebut. Dan petunjuk dan arahan dari beliau, karena itu sudah di danai dari dana Banprov Jabar tidak mungkin jadi double anggaran.

Oleh karena itu, untuk menindaklanjuti arahan pimpinan, pihaknya melaksanakan rapat koordinasi hari ini (Senin-red) untuk mengetahui sampai sejauh mana anggaran dana Banprov itu sudah digunakan.

“Kami melaksanakan rakor, untuk memastikan berapa dana Banprov yang sudah digunakan dan berapa sisanya, selanjutnya kami akan melaporkan kepada pimpinan,” tegasnya.

Awalnya lanjut Atep, perbaikan jalan pintas itu didanai dana Banprov sebesar Rp 98 juta, Dan setelah melihat existing di lapangan, tingkat kerusakan akibat longsor kemungkinan membutuhkan biaya 4 kali lipatnya.

“Kami akan membawa hasil rapat koordinasi ini, yang dituangkan dalam Berita Acara didukung dengan dokumentasi, akan kami serahkan kepada pimpinan,” ujarnya.

Warga nekat Lalui Jalan Longsor

Dalam kesempatan itu, Ia meminta warga untuk tidak melalui jalan yang mengalami longsor tersebut, karena sangat riskan terjadinya kecelakaan. Kalau bisa sih ditutup untuk sementara waktu, kalaupun warga nekat melalui jalan pintas itu, jangan membawa beban berat.

“Kontur tanahnya yang labil, di bawahnya ada aliran sungai Ciapus yang deras, ditambah kesadaran masyarakat juga kurang, masih terlihat di lokasi longsor ada sampah yang dibuang sembarangan, padahal sudah ada fatwa MUI, buang sampah sembarangan itu haram hukumnya,” ucap Atep.

Dana Banprov Telah Digunakan 90%

Terpisah, Kepala desa Cikarawang, Sapturi Wijaya mengatakan rakor yang dilaksanakan di kantor desa dihadiri langsung Camat Dramaga, pengurus RW 06 (Ketua RTRW dan tokoh masyarakat) dalam rangka klarifikasi pembangunan infrastruktur jalan yang dibiayai dari Banprov yang terkena musibah longsor.

Pada awalnya pembangunan jalan tersebut, karena keinginan masyarakat menggunakan beton, dan lebar jalan ditambah dan sudah melalui proses Musrenbang, dan diputuskan oleh desa dibangun melalui anggaran Banprov Jabar tahun 2025.

“Dan pekerjaannyapun dilaksanakan dengan swakelola oleh masyarakat itu sendiri, kami desa menyetujui itu,” tegasnya.

Saat dikerjakan terjadi musibah longsor, dan konstruksi bangunan yang sudah jadipun terbawa longsor masuk ke dasar sungai Ciapus. Otomatis pekerjaan jalan tersebut dihentikan.

Pekerjaan jalan itu dibiayai dari dana Banprov sebesar Rp 98 juta, namun karena musibah longsor tersebut pekerjaan tidak tuntas. Sementara anggaran sudah banyak yang terpakai digunakan untuk belanja material dan jasa kerja.

“Dari total anggaran sebesar Rp 98 juta, sudah digunakan belanja material dan jasa kerja sebesar Rp 85.850.000 dan sisa uang tunai sebesar Rp 12.150.000,” jelas Sapturi.

Dari dana yang sudah terserap tersebut, sudah dibelanjakan, sebagian ada dalam bentuk barang berupa besi, dan barang bukti disimpan di kantor desa Cikarawang.

“Kami mohon warga untuk bersabar, desa tidak tinggal diam, tapi ini semua perlu proses, dan semoga prosesnya lancar jalan dapat segera diperbaiki sesuai harapan masyarakat,”pungkasnya.***

Scroll to Top