Dosen Pulang Kampung IPB University Perkenalkan Serat Pisang Bernilai Ekonomi Kepada Masyarakat di Lima Desa di Kecamatan Dramaga Kabupaten Bogor

Bagikan

BOGOR, KORAN INDONESIA – Dosen pulang kampung IPB University memperkenalkan inovasi teknologi pengolahan limbah tanaman pisang menjadi produk bernilai ekonomi. Kegiatan tersebut bertajuk Teknologi Ekstraksi Serat Alami dan Produksi Kompos dari Limbah Tanaman Pisang. Acara tersebut berlangsung di Aula Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Rabu (4/11/2026).

Tujuan diselenggarakannya kegiatan tersebut untuk mengedukasi sekaligus pelatihan kepada masyarakat mengenai pemanfaatan limbah tanaman pisang yang selama ini masih dipandang sebelah mata dan tidak bernilai. Melalui penerapan teknologi sederhana, berbagai bagian tanaman pisang dapat dimanfaatkan menjadi produk bernilai tambah, mulai dari bahan serat alami, kompos, hingga bahan olahan pangan.

Ketua Tim Dosen Pulang Kampung, Prof. Dr. Ir. Mochammad Yani, M.Eng, saat dikonfirmasi Koran Indonesia mengatakan bahwa program Dosen Pulang Kampung merupakan kegiatan tahunan IPB University yang memberikan kesempatan kepada para dosen untuk mendiseminasikan hasil penelitian dan inovasi teknologi kepada masyarakat di daerah asalnya.

“kami hari ini melaksanakan kegiatan Dosen Pulang Kampung. Program ini memberikan kesempatan kepada dosen untuk membawa hasil penelitian dan teknologi yang dikembangkan di kampus agar dapat diperkenalkan, dimanfaatkan, serta dikembangkan bersama masyarakat,” ujarnya.

Selanjutnya kata Yani, Kecamatan Dramaga dipilih sebagai lokasi kegiatan karena memiliki kedekatan dengan kampus IPB University. Selain itu, pihaknya telah melakukan penelitian terkait pemanfaatan limbah tanaman pisang selama kurang lebih empat tahun terakhir.

Selama ini menurut pengamatannya, masyarakat umumnya hanya memanfaatkan buah pisang, sementara bagian yang lainnya seperti batang, daun, jantung, dan kulit pisang kerap dibiarkan begitu saja di kebun hingga menjadi limbah.

“Padahal jika tahu cara mengolahnya, pohon pisang selain buahnya, seluruh bagian pohonnya juga bisa bermanfaat dengan teknologi yang reaktif murah. Batang pohon bisa menghasilkan serat alami sebagai bahan baku tekstil, tali, dan berbagai produk kerajinan. Sementara sisa bahan organiknya dapat diolah menjadi kompos,” jelasnya.

Potensi Ekonomi dari Serat Pisang

Dalam kesempatan itu Yani mengungkapkan, salah satu produk unggulan dari inovasi tersebut adalah serat alami yang dihasilkan dari batang pisang. Serat ini berpotensi dikembangkan menjadi bahan baku kain dan produk tekstil ramah lingkungan.

Ia menyebutkan, produk kain berbahan serat pisang memiliki nilai jual cukup tinggi. Bahkan, apabila dikombinasikan dengan serat sutra, nilai satu produk pakaian dapat mendekati angka Rp1 juta.

“Untuk serat kain, nilainya relatif lebih tinggi. Kami memiliki contoh produk kain yang harganya sekitar Rp400 ribu, sedangkan jika dikombinasikan dengan sutra, harga satu pakaian bisa mendekati Rp1 juta. Produk berbahan serat alami ini juga memiliki peluang pasar, termasuk pasar luar negeri,” ungkapnya.

Selain menghasilkan serat, bagian tanaman pisang yang tidak digunakan dalam proses ekstraksi dapat dicacah dan diolah menjadi kompos. Pemanfaatan kompos tersebut diharapkan dapat membantu petani mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia sekaligus meningkatkan pemanfaatan bahan organik di lingkungan pertanian.

Sementara bagian lainnya, seperti kulit pisang dan buah yang tidak dimanfaatkan, juga berpotensi diolah menjadi produk pangan, antara lain keripik dan tepung pisang, serta dimanfaatkan untuk pakan ternak maupun produk olahan lainnya.

Libatkan 30 Peserta dari Lima Desa

Acara sosialisasi dan pelatihan diikuti sekitar 30 peserta dari lima desa antara lain desa Sukawening, Neglasari, Petir, Dramaga, dan desa Sinarsari.

Pelatihan dilaksanakan melalui penyampaian materi dan demonstrasi langsung proses pengolahan batang pisang menjadi serat alami serta pembuatan kompos dari sisa limbah tanaman pisang, menggunakan alat manual & mesin.

Tim dosen yang terlibat berjumlah empat orang dengan pembagian materi sesuai bidang masing-masing. Selain Prof Moh Yani, MEng sebagai ketua tim, hadir juga Dr Ir Rini Purnawati, MS yang memberikan pelatihan pengolahan serat pisang, Dr Andes Ismayana, SPT.MT yang menjelaskan teknik pembuatan kompos, serta Dr Ir Agus Sutejo, MT yang memperkenalkan teknologi dan penggunaan mesin pengolah.

Yang menarik perhatian peserta, peralatan pengolahan yang digunakan dikembangkan secara sederhana dan dibuat melalui bengkel yang berada di bilangan Desa Neglasari. Dengan demikian, teknologi tersebut diharapkan dapat direplikasi masyarakat secara mandiri apabila nantinya ingin mengembangkan usaha pengolahan limbah serat pisang.

Pihaknya berharap, melalui kegiatan ini masyarakat tidak lagi memandang limbah tanaman pisang sebagai sampah yang tidak memiliki nilai ekonomi tinggi.

“Pada tahap awal, kami memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada masyarakat bahwa limbah yang selama ini dianggap tidak berharga sebenarnya memiliki nilai ekonomi. Kalau hanya dibuang tentu tidak menghasilkan apa-apa, tetapi jika diolah menjadi serat atau kompos, manfaatnya jauh lebih besar,” pungkasnya.***

Scroll to Top