Dospulkam 2026 IPB University Ciptakan Inovasi Fortifikasi Tepung Ikan Tingkatkan Nilai Gizi Produk Lanting dan Mendorong Produk UMKM Naik Kelas di Kabupaten Kebumen Jawa Tengah

Bagikan

BOGOR, KORAN INDONESIA – Dosen Pulang Kampung (Dospulkam) Tahun 2026 bersama Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship IPB University hadirkan inovasi baru yakni Diseminasi Inovasi Fortifikasi Tepung Ikan untuk Meningkatkan Nilai Gizi dan Daya Saing Produk UMKM Lanting di Kabupaten Kebumen.

Kegiatan tersebut dipimpin Prof. Dr. Ir. Tri Wiji Nurani, M.Si., dari Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University.

Kemudian anggota tim yang menyertai pelaksanaan kegiatan Dospulkam ini terdiri dari Dr. Retno Muninggar, S.Pi., M.E., Rianti Dyah Hapsari, S.T.P., M.Sc., Dr. Didin Komarudin, S.Pi., M.Si., dan Dr. Ir. Mokhamad Dahri Iskandar, M.Si. yang juga merupakan Dosen/Staf Pengajar dari Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB.

Dalam keterangan tertulisnya Prof. Dr. Ir. Tri Wiji Nurani, M.Si yang diterima Koran Indonesia.net pada Selasa, 25 Agustus 2026 mengatakan bahwa kegiatan tersebut berlangsung pada tanggal 24 Agustus 2026 di desa Lemah Duwur, Kecamatan Kuwarasan Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, diikuti oleh 24 peserta, yang terdiri atas 15 pelaku UMKM lanting, 4 staf Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, serta 5 peserta dari perangkat Desa Lemah Duwur.

Selain itu, kata Prof Tri acara tersebut dihadiri pula Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (Disperindag KUKM) Kabupaten Kebumen dan Kepala Desa Lemahduwur.

Menurutnya keterlibatan berbagai unsur tersebut diharapkan dapat memperkuat proses transfer pengetahuan sekaligus membuka peluang penerapan inovasi secara lebih luas dan berkelanjutan.

Tujuan Dospulkam 2026

Selanjutnya kata Prof Tri tujuan Dospulkam untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan tingkat adopsi inovasi para pelaku UMKM, khususnya dalam pengembangan produk lanting.

“Kami berharap pemanfaatan tepung ikan sebagai bahan fortifikasi, produk lanting tidak hanya memiliki cita rasa dan karakteristik yang tetap menarik bagi konsumen, tetapi juga mempunyai nilai gizi dan nilai tambah ekonomi yang lebih baik,” tegasnya.

Inovasi fortifikasi tepung ikan yang diperkenalkan dalam kegiatan ini bukan merupakan teknologi yang muncul secara tiba-tiba. Inovasi tersebut telah dikembangkan melalui Penelitian Riset Nasional (Ri-Na IPB) Tahun 2024 dan menunjukkan hasil yang positif dalam meningkatkan kandungan protein pada produk lanting.

“Hasil penelitian tersebut, kami bawa lebih dekat kepada masyarakat melalui kegiatan Dospulkam. Dengan demikian, kegiatan ini menjadi salah satu bentuk nyata upaya menjembatani hasil penelitian di Perguruan Tinggi dengan kebutuhan dan praktik usaha di tingkat UMKM,” katanya.

Mendorong Produk Lokal Naik Kelas

Lanting merupakan salah satu produk pangan olahan yang telah menjadi bagian dari potensi ekonomi masyarakat Kabupaten Kebumen. Namun dalam pengembangannya lanting masih menghadapi tantangan, antara lain terkait peningkatan nilai gizi, inovasi produk, daya saing, serta pemanfaatan hasil riset untuk mendukung pengembangan usaha.

Fortifikasi tepung ikan ditawarkan sebagai salah satu alternatif solusi terhadap tantangan tersebut. Pemanfaatan sumber protein berbasis ikan diharapkan dapat memberikan nilai tambah gizi sekaligus membuka peluang pengembangan produk pangan lokal yang lebih inovatif dan kompetitif.

“Diseminasi ini tidak hanya berbicara tentang teknologi, tetapi juga bagaimana hasil penelitian dapat benar-benar dimanfaatkan oleh masyarakat. Harapan kami, inovasi fortifikasi tepung ikan dapat diadopsi oleh pelaku UMKM dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan serta karakteristik usaha mereka,”ucapnya.

Pihaknya juga berharap, Kolaborasi keberlanjutan Inovasi ini bukan hanya melibatkan perguruan tinggi dan pelaku UMKM, tetapi diharapkan peran Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM dengan pelaku UMKM serta perangkat Desa Lemah Duwur bisa terjalin, sehingga kegiatan ini dapat lebih membumi dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

“Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam memperluas jangkauan diseminasi dan mendorong keberlanjutan adopsi inovasi. Keterlibatan pemerintah daerah dan pemerintah desa diharapkan dapat menjadi penguat ekosistem pengembangan UMKM, sehingga inovasi yang diperkenalkan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan atau sosialisasi, tetapi dapat berkembang menjadi praktik usaha yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” Imbuhnya.

Lalu kata dia, Kebaruan Dospulkam 2026 terletak pada pendekatan diseminasi yang secara khusus menghubungkan hasil riset dengan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan pelaku UMKM. Dengan pendekatan tersebut, inovasi yang sebelumnya masih terbatas pada tahap penelitian dan sosialisasi kelompok tertentu, memiliki peluang untuk diadopsi secara lebih luas di tingkat usaha dan dikembangkan secara berkelanjutan, dan manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.***

Scroll to Top