Forkopimcan Ciampea dan Pemdes Cihideung Udik Melaksanakan Prosesi Pengambilan Tanah Patilasan Karomah Eyang Prabu Taji Malela dan Air dari Mata Air Bairun, untuk Helaran Budaya HJB ke 544

Bagikan

BOGOR KORAN INDONESIA – Dalam rangka menyemarakkan rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Bogor yang ke-544, Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Ciampea secara khidmat menghadiri prosesi adat pengambilan tanah dari patilasan Makam Karomah Eyang Prabu Taji Malela ( Batara Tuntang Buana/Resi Tjakrabuana). Kp Cihideung RT 01 RW 09 dan air dari sumber mata air Bairun di Kp Bairun RW 12 Kp Kelapa tujuh desa Cihideung Udik Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, pada Senin, 22/06/2026.

Prosesi ini merupakan bagian penting dari tradisi tahunan yang telah dijalankan, di mana setiap wilayah di Kabupaten Bogor diminta menyerahkan dua unsur alam yang dianggap sakral dan penuh makna, yaitu tanah dan air. Unsur-unsur tersebut nantinya akan dibawa dalam helaran budaya puncak peringatan Hari Jadi Bogor ke – 544 dan disatukan di Alun-Alun Kabupaten Bogor sebagai lambang persatuan, keberagaman, dan kebersamaan seluruh elemen masyarakat dari hulu hingga hilir.

Sumber mata air Bairun yang menjadi sumber air dalam prosesi ini, bukan sekadar sumber mata air biasa. Bagi masyarakat desa Cihideung Udik, mata air ini memiliki nilai sejarah sejak zaman dahulu, digunakan masyarakat untuk kebutuhan sehari – hari, dan mata air ini tidak pernah kering saat musim kemarau, airnya jernih, dingin dan ada rasa manisnya.

Dan Air yang diambil melambangkan sumber kehidupan, kesuburan, serta harapan agar Kabupaten Bogor senantiasa diberkahi kesejahteraan dan kelancaran dalam setiap langkah pembangunannya.

Sementara itu, tanah yang diambil berasal dari makam Kramat Eyang Prabu Taji Malela.Kp Cihideung, Tanah ini dipilih sebagai representasi akar sejarah, identitas asli, dan kearifan lokal yang telah diwariskan turun-temurun. Setiap butir tanah yang diambil mengandung nilai perjuangan, ketabahan, dan jati diri masyarakat Cihideung Udik, Kecamatan Ciampea yang harus terus dijaga agar tidak luntur dimakan zaman.

Prosesi serah terima tanah makam Eyang Prabu Taji Malela/Asof/Koran Indonesia//

Prosesi berlangsung dengan suasana yang sakral dan penuh penghormatan, dengan melakukan tawasul doa bersama sebelum pengambilan tanah dan air, dihadiri langsung oleh unsur Forkopimcam Ciampea, jajaran Pemerintah Desa Cihideung Udik, tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda, serta diikuti antusias oleh warga masyarakat.

Camat Ciampea, Yudhi Utomo mengatakan bahwa hari ini Ia didampingi Ketua TP PKK Kecamatan Ciampea, serta jajaran Forkopimcam Ciampea, juga didampingi Kepala desa Cihideung Udik beserta jajaran melaksanakan instruksi Bupati Bogor, Rudy Susmanto mengambil tanah karomah dan air dari sumber mata air yang telah memberi manfaat banyak bagi masyarakat Cihideung Udik khususnya dan sekitarnya.

“Bupati Bogor menginginkan karomah dari tanah dan air di masing – masing wilayah Kecamatan untuk disatukan di Kabupaten Bogor, mudah – mudahan tanah dan air karomah ini membawa keberkahan untuk masyarakat khusunya Kecamatan Ciampea umumnya masyarakat Kabupaten Bogor,” katanya.

Pengambilan Tanah Karomah

Terpisah di lokasi yang sama Kepala Desa Cihideung Udik, H Denny mengatakan dalam rangka rangkaian hari Jadi Bogor (HJB) ke 544, pihaknya bersama Forkopimcam Ciampea melaksanakan prosesi pengambilan tanah dan air karomah yang akan dibawa pada Helaran Budaya di Kabupaten Bogor yang akan dilaksanakan pada Minggu, 28/06/2026.

Prosesi pengambilan air dari mata air Bairun/Asof/Koran Indonesia//

Prosesi ngalokacai lanjut H Denny, pertama mengambil tanah di lokasi patilasan karomah makam Eyang Prabu Taji Malela yang pada zaman itu sempat singgah di desa Cihideung Udik, dan prosesi mengambil tanah dilakukan oleh Tokoh Masyarakat, Pak Oding, lalu tanah yang sudah dimasukan ke dalam pendil, diserahkan ke kepala desa Cihideung Udik, H Denny dan diserahkan langsung ke Camat Ciampea, Yudhi Utomo.

Selanjutnya H Deni mengungkapkan bahwa tanah yang diambil dari patilasan Makam Eyang Prabu Taji Malela merupakan patilasan tokoh Sunda dan menurut riwayat Ia merupakan Raja Sumedang.

Keberadaan patilasan tersebut, berada diujung pemakaman umum warga, karena dianggap memiliki nilai sejarah kasundaan, sebagai bentuk perhatian pemerintah desa dan masyarakat desa Cihideung Udik melestarikan patilasan makam Eyang Prabu Taji Malela dibangun sebuah bangunan, sehingga keberadaan patilasan itu ada di dalam bangunan. Selain itu, untuk memudahkan akses menuju makam dibangun juga jalan beton.

Pengambilan Air dari Mata Air Bairun

Prosesi pengambilan air dari mata air Bairun dilakukan oleh Mak Anti (Keturunan Abah Enduy kasepuhan Pengurus Cai Bairun) dengan menggunakan gayung bambu, dimasukan ke dalam kendi, lalu diserahkan Mak Anti ke Kepala Desa Cihideung Udik, H Denny.

“Kami terima air dari mata air Bairun dari Mak Anti, lalu kami atas nama pemerintah dan masyarakat serta leluhur desa Cihideung Udik menyampaikan air tersebut kepada Camat Ciampea, Yudhi Utomo,” ucapnya.

Lalu Ia menegaskan, selain dua tempat bersejarah itu masih ada beberapa tempat yang bersejarah lainnya di wilayah Cihideung Udik yang harus dijaga kelestariannya, kebermanfaatannya dan keberkahannya.

“Dan sudah kami diinventarisir semuanya, insya Allah kami akan menjaga dan melestarikan tempat – tempat yang memiliki nilai sejarah menjadi cagar budaya di desa Cihideung Udik,” Pungkas H Denny.***

Scroll to Top