Model Holding Company Berbasis ERP Dinilai Mampu Transformasikan Koperasi Menjadi Kekuatan Ekonomi Nasional

Bagikan

JAKARTA– KORAN INDONESIA – Gagasan transformasi koperasi melalui model holding company berbasis Enterprise Resource Planning (ERP) mengemuka sebagai salah satu strategi memperkuat daya saing koperasi Indonesia agar mampu berdiri sejajar dengan korporasi modern.

Hal itu diketahui dari forum diskusi yang berlangsung di gedung Graha Kosgoro, Jl Blora No 30 Menteng Jakarta Pusat pada Minggu, 12 Juli 2026, forum tersebut secara resmi dibuka oleh ketua umum Kosgoro, Hayono Isman.

Forum diskusi dihadiri dari berbagai kalangan mulai dari Akademisi, praktisi koperasi, pengamat ekonomi, pelaku usaha, tokoh masyarakat dan sejumlah undangan yang hadir. Dan menghadirkan salah satu narasumber H Budi Enda Dhaniswara.

Dalam keterangannya H. Budi Enda Dhaniswara mengatakan masa depan koperasi tidak lagi ditentukan oleh besarnya modal, melainkan oleh kemampuan membangun jaringan usaha yang kuat, tata kelola yang profesional, serta pemanfaatan teknologi secara terintegrasi.

Menurut dia, model holding company berbasis ERP layak dijadikan proyek percontohan nasional guna memperkuat koperasi sebagai pilar utama ekonomi Indonesia.

Kolaborasi antar lembaga

Selanjutnya Ia menegaskan untuk mewujudkan koperasi berbasis ERP diperlukan kolaborasi antar lembaga, mulai lembaga pemerintah, akademisi, lembaga keuangan, pengusaha, dan praktisi koperasi bisa bekerja sama.

“Melalui kolaborasi pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, lembaga keuangan, investor, serta gerakan koperasi, transformasi tersebut diharapkan mampu melahirkan koperasi modern yang transparan, akuntabel, berdaya saing global, dan tetap berlandaskan prinsip ekonomi kerakyatan sebagaimana amanat Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian,”tegasnya.

Sementara itu, Fachri Yulizar, selaku offtaker dari PT Mandiri Banana Indonesia yang hadir dalam forum diskusi tersebut menegaskan, bahwa kepastian pasar merupakan faktor penting bagi keberlanjutan usaha koperasi.

Menurutnya, kemitraan antara koperasi dan offtaker akan memberikan kepastian penyerapan hasil produksi sekaligus mendorong peningkatan kualitas produk sesuai kebutuhan pasar.

Sebagai contoh kata dia implementasi, konsep tersebut mulai diterapkan melalui INKOS Kosgoro bersama koperasi-koperasi primer mitranya. Salah satunya adalah Koperasi Namara di Desa Nanggerang, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, yang mengembangkan komoditas pisang barangan jumbo merah dan kacang edamame melalui kemitraan dengan PT Mandiri Banana Indonesia sebagai offtaker.

Dalam model tersebut lanjut Fachri, koperasi sekunder berperan sebagai pusat strategi atau holding company yang mengintegrasikan pemasaran, pembiayaan, investasi, pengembangan SDM, serta penerapan sistem ERP. Sementara koperasi primer tetap fokus mengelola kegiatan produksi sesuai potensi daerah masing-masing.

“Selain sektor pertanian, transformasi digital juga kami akan wujudkan melalui pengembangan opang.id, platform transportasi daring milik koperasi yang menjadi contoh bagaimana koperasi dapat menjadi pemilik teknologi digital, bukan hanya sebagai pengguna,”tandas Fachri Yulizar.***

 

Scroll to Top