KORANINDONESIA, Jakarta – Dua peneliti perempuan Indonesia, RA. Loretta Kartikasari, SE., MM., M.IKom., PhD.C., CSP., CPM., CRA., CNPHRP dari Universitas Mercu Buana dan Dr. (c) Ratih Anggoro Wilis, SE., MM., C.DMS., CPOD dari Universitas Siber Asia, melakukan penelitian lintas negara ke Vietnam guna mengkaji fenomena unik yang dikenal sebagai “Apartment Café”.
Penelitian ini berfokus pada konsep alih fungsi bangunan apartemen atau rumah susun menjadi pusat aktivitas komersial kreatif, seperti kafe, tempat hangout, hingga gerai produk kecantikan, perawatan, serta kerajinan khas Vietnam. Fenomena ini berkembang pesat dan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik maupun internasional.
Salah satu lokasi utama yang menjadi objek kajian adalah Cafe Apartment 42 Nguyen Hue, yang berlokasi di kawasan strategis Nguyen Hue Walking Street, Distrik 1, Ho Chi Minh City. Bangunan ini merupakan bekas hunian perwira militer yang kemudian dialihfungsikan pada tahun 2010-an menjadi pusat kafe dan butik kreatif.
Bangunan tersebut terdiri dari sembilan lantai yang diisi oleh beragam usaha, mulai dari kafe unik, kedai teh, butik fesyen, hingga ruang kerja bersama (coworking space). Daya tarik utamanya terletak pada arsitektur lama yang estetik, suasana dinamis khas anak muda, serta pemandangan langsung ke kawasan pejalan kaki Nguyen Hue dari balkon setiap unit.
Dalam kajian ini, para peneliti menyoroti bahwa kekuatan utama dari popularitas Apartment Café bukan semata pada konsep fisik, melainkan pada peran digital marketing yang tumbuh secara organik melalui pengalaman pengunjung. Konten yang dihasilkan wisatawan dan dibagikan melalui media sosial terbukti mampu menciptakan efek viral yang signifikan.
Menariknya, banyak pelaku usaha di lokasi tersebut tidak mengandalkan media sosial resmi sebagai kanal utama promosi. Sebaliknya, mereka memaksimalkan visibilitas melalui platform seperti Google Business, Google Maps, serta ulasan (review) dari pengunjung. Strategi ini menunjukkan bahwa kredibilitas berbasis pengalaman pengguna menjadi faktor penting dalam menarik minat wisatawan.
“Fenomena ini menunjukkan bahwa kekuatan digital marketing saat ini tidak selalu harus berasal dari kampanye besar, tetapi bisa tumbuh dari interaksi autentik pengunjung yang kemudian memperkuat citra destinasi secara kolektif,” ujar RA. Loretta Kartikasari dalam keterangannya.
Sementara itu, Dr. (c) Ratih Anggoro Wilis menambahkan bahwa konsep ini memberikan pembelajaran penting bagi Indonesia, khususnya dalam pengembangan UMKM berbasis kawasan. “Indonesia memiliki banyak ruang dan titik potensial yang secara visual maupun kultural unik. Dengan pendekatan yang tepat, lokasi-lokasi tersebut dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata terpusat yang didorong oleh kekuatan digital dan partisipasi publik,” jelasnya.
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi pengambil kebijakan, pelaku UMKM, serta pengembang kawasan dalam merancang strategi pengembangan destinasi yang adaptif, kreatif, dan berdaya saing di era digital.
Tentang Peneliti
RA. Loretta Kartikasari merupakan akademisi dan peneliti di Universitas Mercu Buana yang memiliki fokus pada digital communication dan marketing communication
Ratih Anggoro Wilis adalah akademisi Universitas Siber Asia yang menekuni bidang manajemen dan pengembangan organisasi berbasis digital.



