Pertemuan Audiensi PT MBI dengan Fakultas Biologi UGM, Bahas Kerjasama Pengembangan Bibit Kultur Jaringan Porang Industri

Bagikan

YOGYAKARTA, KORAN INDONESIA – PT Mandiri Banana Indonesia (PT MBI) melakukan kunjungan kerja, audiensi dengan Fakultas Biologi Universitas Gajah Mada (UGM). Audiensi tersebut berlangsung di salah satu ruang rapat Fakultas Biologi UGM pada Kamis, 16/07/2026.

Jajaran Direksi PT MBI beserta rombongan diterima Aries Budi Sasongko, Dosen Biological Sciences/ Plant Biotechnolgy/ Plant Biologi Universitas Gajah Mada (UGM) S.Si,M.Biotech Dalam pertemuan tersebut banyak sekali yang didiskusikan salah satunya dibahas pengembangan kultur jaringan tanaman Porang.

“Kami menyambut baik kedatangan rombongan dari PT MBI, dan kami juga menyampaikan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan pihak PT MBI untuk mengembangkan kultur jaringan tanaman Porang, ini sesuatu hal yang baru bagi kami, karena kami terbiasa mengelola tanaman anggrek, mudah – mudahan ini menjadi awal kerjasama yang baik yang dapat menguntungkan kedua belah pihak,” ujarnya.

Durasi Waktu Proses Kultur Jaringan Tanaman Porang Industri

Dalam kesempatan itu, Ia menyampaikan proses kultur jaringan tanaman Porang dari umbi diambil dari alam lalu diperbanyak untuk dijadikan kultur jaringan bisa diambil dari daunnya, tangkainya, kemudian secara aseftis dengan menggunakan teknik kultur jaringan melalui perbanyakan salah satunya sadur pelengkapnya.

“Proses Kultur jaringan tanaman Porang itu memerlukan waktu yang cukup panjang, sekitar 1 tahun itu baru bisa di tanam di alam, yakni di daerah yang ada tegakannya seperti hutan atau daerah yang rimbun dengan pepohonan,”tegasnya.

Selanjutnya Ia juga menegaskan varietas yang dikembangkan pada kultur jaringan harus jelas dulu asal usulnya dan jelas juga pemiliknya agar aman, dan Alhamdulillah pengembangan kultur jaringan yang dikembangkan di Laboratorium Fakultas Biologi UGM pemiliknya sudah jelas, yakni pihak PT MBI ( Bapak Basuki Waluyo ).

“Tentunya kepemilikan disini harus dilengkapi dengan dokumen, yang menyatakan bahwa varietas yang dikembangkan di tempat kami adalah benar – benar miliknya khususnya tanaman pangan atau tanaman industri, agar semuanya aman,” Imbuhnya.

Sementara itu, Direktur Keuangan PT MBI Septy Diana (Ibu Dian) dalam keterangannya mengatakan bahwa kunjungan hari ke UGM sebagai tindak lanjut pertemuan sebelumnya beberapa waktu lalu terkait dengan pengembangan kultur jaringan tanaman Porang industri.

“Kami bekerjasama dengan Fakultas Biologi UGM terkait pengembangan kultur jaringan tanaman Porang industri dilatar belakangi berkurangnya pasokan bahan baku Porang untuk pabrik – pabrik yang ada di Indonesia, salah satunya PT Mitra Pertanian Feng Teng Indonesia, pasokan Porang saat ini itu berasal dari pertanian milik warga,” katanya.

Oleh karena itu, untuk jangka panjang agar tidak terjadi kelangkaan produktivitas bahan baku Porang pihaknya menggandeng biologi UGM untuk mengembangkan tanaman Porang melalui kultur jaringan, insya Allah untuk jangka satu tahun ke depan bibit tanaman Porang kultur jaringan bisa ditanam secara masal di Indonesia.

Kolaborasi Penanaman Massal bibit Porang Industri

Selanjutnya Ibu Dian menegaskan untuk menanam Porang industri secara massal tidak bisa dilakukan oleh para petani biasa, ini perlu kolaborasi pemerintah dalam hal ini Kementerian Kehutanan dan Pertanian hingga ketingkat provinsi, Kabupaten/kota di Indonesia bekerjasama dengan pihak swasta salah satunya PT MBI sebagai penyedia bibit kultur jaringan tanaman Porang industri.

“Offtaker sudah ada, pabrik pengolahan sudah ada, pasarnya sudah jelas, jadi menurut kami ayo kita kolaborasi menanam Porang industri dari bibit kultur jaringan yang dikembangkan di UGM,” Imbuhnya.

Salah satu keunggulan bibit kultur jaringan Porang industri yang dikembangkan UGM memiliki durasi masa panen ‘Dorman Tumbuh Dorman’ dan langsung panen dalam jangka waktu satu tahun sekali, sementara yang dibudidaya oleh masyarakat itu butuh waktu sekitar 2 tahun baru panen.

“Jadi produktivitas hasil panen dengan bibit kultur jaringan bisa lebih cepat, dan bisa memenuhi kebutuhan industri dengan waktu yang cepat pula,” pungkasnya.***

 

Scroll to Top