PDIP Desak Pemerintah Benahi Ekosistem Film Nasional di Tengah Ancaman AI

Anggota DPR RI Komisi VII Novita Hardini
Bagikan

Ribuan Film Hilang, Era AI juga Datang. PDIP Desak Pemerintah Selamatkan Industri Film dengan Benahi Ekosistem

JAKARTA, KORAN INDONESIA – Anggota Komisi VII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan (PDIP) Novita Hardini mengingatkan bahwa Panja Industri Film harus menjadi instrumen serius. Khususnya, lanjut dia, dalam membenahi ekosistem, melindungi hak cipta, memperkuat pembiayaan, serta menjaga keberlanjutan industri film nasional.

“Tanpa keberpihakan nyata, kejayaan film Indonesia hanya akan jadi nostalgia, bukan masa depan,” ujarnya, Selasa (3/2/2026).

Novita juga menyoroti buruknya sistem pengarsipan film nasional dalam menjaga memori kolektif bangsa.

“Dari sekitar 4.400 film yang diproduksi sejak 1926 hingga 2025, sekitar 1.500 di antara dilaporkan hilang,” ucapnya.

Menurut Novita, generasi muda saat ini banyak yang tidak mengenal tokoh perfilmannya sendiri.

“Ini merupakan kegagalan negara dalam menjaga warisan budaya,” ucapnya.

Menurut Novita, tantangan tersebut kian berat dengan hadirnya teknologi kecerdasan buatan (AI) yang mengancam ketersediaan lapangan kerja bagi para praktisi kreatif. Oleh karena itu, ia mendesak negara untuk segera mengintervensi regulasi tersebut.

“AI jangan dipoles sebagai inovasi, jika faktanya menggerus ruang hidup pekerja kreatif kita. Negara tidak boleh abai terhadap ancaman ini,” tegas Novita.

Novita turut mengkritik ketergantungan Indonesia terhadap Intellectual Property (IP) asing, sementara aset lokal kurang mendapat perhatian. Ia menilai, dukungan anggaran pemerintah saat ini masih jauh dari kata ideal untuk bisa menembus pasar global.

Sebagai perbandingan, Novita merujuk pada Korea Selatan yang memiliki skema modal ventura khusus untuk mendukung industri filmnya. Hal ini, kata dia, kontras dengan kondisi di dalam negeri yang masih bergantung pada bantuan skala kecil.

“Bantuan maksimal Rp500 juta tidak akan menggerakkan industri film. Itu bahkan hanya cukup untuk tahap penulisan skrip. Kita butuh venture capital khusus film, bukan kebijakan setengah hati,” pungkasnya.***

Baca jugaRekomendasi Film Anime yang Diadaptasi dari Novel, Lonely Castle in the Mirror

Scroll to Top