BANDUNG, KORAN INDONESIA – Untuk memperkirakan waktu persalinan dan memantau kesehatan janin, menghitung umur kehamilan menjadi penting.
Beberapa cara yang sering digunakan dan telah teruji akurasinya untuk menghitung umur kehamilan adalah sebagai berikut.
1. Berdasarkan Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT)
Cara yang paling umum digunakan oleh tenaga medis adalah berdasarkan Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT).
Rumus dasar (Naegele):
- Tambahkan 7 hari
- Kurangi 3 bulan
- Tambahkan 1 tahun
Metode ini efektif jika digunakan pada wanita dengan siklus menstruasi yang teratur (sekitar 28 hari).
Karena ovulasi diasumsikan terjadi di hari ke-14, maka akurasinya bisa berkurang apabila siklus haid tidak teratur.
2. Menggunakan Pemeriksaan USG (Ultrasonografi)
Para dokter spesialis kandungan sangat mengandalkan USG, terutama pada trimester pertama.
Pada tahap ini, ukuran janin (crown-rump length) masih sangat konsisten sehingga dapat memberikan estimasi usia kehamilan yang lebih akurat.
Keunggulan metode ini:
- Lebih akurat dibanding HPHT pada banyak kasus
- Dapat digunakan jika ibu lupa HPHT
- Membantu mendeteksi perkembangan janin secara langsung
3. Berdasarkan Tinggi Fundus Uteri
Metode ini dilakukan dengan mengukur jarak dari tulang kemaluan (simfisis pubis) hingga puncak rahim (fundus).
Biasa digunakan setelah usia kehamilan memasuki trimester kedua atau pada usia 20–36 minggu.
Sebagai patokan:
Tinggi fundus (cm) ≈ usia kehamilan (minggu)
Namun, metode ini hanya bersifat perkiraan dan bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor; Seperti, jumlah air ketuban, kehamilan kembar, posisi janin, berat badan atau ukuran janin.
4. Menghitung Berdasarkan Gerakan Janin
Ibu hamil biasanya mulai merasakan gerakan janin pada:
- 16–20 minggu (kehamilan pertama)
- Lebih awal pada kehamilan berikutnya
Metode ini bersifat subjektif dan hanya digunakan sebagai pendukung, bukan acuan utama.



