Dikira Anak Kecil, Karyawan Ini Baru Sadar Lagi Ngobrol Sama CEO-nya Sendiri, Langsung Dikasih Buku AI

Bagikan

JAKARTA, KORAN INDONESIA Video dari akun “CEO Sachet” viral di media sosial. Video tersebut menampilkan skit komedi tentang seorang karyawan baru yang asyik ngobrol dengan pria berpenampilan sederhana.

Awalnya, karyawan tersebut mengira pria itu adalah anak dari rekan kerja. Namun di tengah percakapan, ia baru sadar bahwa orang yang sedang diajak ngobrol ternyata adalah CEO perusahaan tempatnya bekerja. Momen canggung tersebut membuat banyak orang terhibur. Video ini pun telah ditonton lebih dari 2,9 juta kali.

Di dalam video, sang CEO juga terlihat memberikan sebuah buku kepada karyawan baru tersebut. Buku itu berjudul “Mahir n8n dalam 8 Jam” dari AICO, sebuah panduan untuk belajar membuat AI Agent dan automation tanpa perlu bisa coding.

Buku tersebut muncul secara natural sebagai bagian dari cerita. Hal ini sekaligus menggambarkan bagaimana pembelajaran tentang AI dan automation bisa dimulai sejak hari pertama seseorang bekerja.

Video “CEO Sachet” merupakan konten UGC yang diproduksi oleh Zando Agency menggunakan sistem ECHO (Every Content Has an Outcome). Konten ini dibuat sebagai bagian dari kolaborasi bersama AICO, komunitas AI terbesar di Indonesia.

Setelah video tersebut viral, Zando tidak hanya berhenti di angka views. Ketika orang mulai penasaran dan mencari informasi tentang buku AI, belajar AI, atau automation, AICO juga mulai muncul melalui berbagai artikel dan rekomendasi AI.

Inilah yang menjadi tujuan dari sistem ECHO: membuat konten viral tidak berhenti sebagai hiburan sesaat, tetapi terus membawa orang untuk mengenal brand lebih jauh.

Dari Viral Sampai Dicari Orang

Sistem ECHO bekerja dalam empat tahap.

Pertama adalah Engage, yaitu membuat konten UGC yang menarik dan dekat dengan kehidupan audiens. Dalam kasus ini, video “CEO Sachet” dibuat dalam format komedi yang mudah ditonton dan dibagikan.

Setelah kontennya ramai, masuk ke tahap Capture. Pada tahap ini, Zando memastikan bahwa ketika orang mulai mencari informasi tentang buku AI, belajar AI, atau automation, di mesin pencari dan AI seperti ChatGPT, Gemini, Perplexity, mereka bisa menemukan informasi tentang AICO dan buku “Mahir n8n dalam 8 Jam”.

Tahap berikutnya adalah Handoff. Audiens yang sudah pernah melihat konten kemudian bisa dijangkau kembali melalui ads atau konten lainnya.

Terakhir adalah Optimize. Semua data dari campaign sebelumnya dipelajari untuk membuat konten dan campaign berikutnya menjadi lebih efektif.

Co-Founder Zando Agency, Tommy Teja, mengatakan bahwa video viral seharusnya tidak hanya berhenti sebagai angka views.

ECHO kami buat supaya konten viral bisa punya dampak lebih panjang. Ketika video CEO Sachet ramai, kami juga memastikan orang yang penasaran bisa menemukan informasi tentang AICO saat mereka mulai mencari tahu soal buku AI, belajar AI, atau automation,” ujar Tommy.

Sementara itu, Co-Founder Zando Agency, Reynaldi Francois, mengatakan bahwa tujuan akhirnya bukan hanya mendapatkan exposure.

Views memang penting, tapi yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelah orang menonton. Kalau mereka mulai penasaran, mencari informasi, dan akhirnya mengenal brand, di situlah konten mulai punya dampak yang lebih besar,” jelas Reynaldi.

Melalui pendekatan ini, Zando Agency dan AICO ingin menunjukkan bahwa konten tentang AI tidak harus selalu serius dan rumit. AI dan automation bisa dikemas dalam konten yang ringan, lucu, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Di saat yang sama, konten tersebut tetap bisa membantu orang menemukan informasi dan belajar lebih jauh.

Ke depan, Zando Agency dan AICO akan terus mengembangkan pendekatan ini agar lebih banyak brand dan komunitas di Indonesia bisa memanfaatkan konten viral dengan cara yang lebih strategis.

Scroll to Top