KORANINDONESIA, JAKARTA – Ustaz Khalid Basalamah mengajak kita balik ke satu hal paling mendasar dalam hidup: sebenarnya kita ini diciptakan untuk apa. Allah sudah tegaskan dalam Al-Qur’an, tepatnya di Surah Az-Zariyat ayat 56, bahwa manusia dan jin tidak diciptakan kecuali untuk beribadah kepada-Nya. Artinya sederhana tapi dalam, hidup ini ujungnya bukan soal dunia, tapi soal bagaimana kita tunduk dan mengabdi kepada Allah.
Orang yang benar-benar paham tujuan ini, dia bukan cuma mengucapkan “Tuhanku Allah” di lisan, tapi juga dipikirkan, diyakini dalam hati, lalu dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Di sinilah letak keberuntungan yang sebenarnya.
Allah juga menjelaskan dalam Surah Al-Ahqaf ayat 13–14, siapa yang berkata “Rabb kami Allah” lalu istiqomah, maka tidak ada rasa takut dan sedih bagi mereka, baik di dunia maupun di akhirat. Mereka dijanjikan surga sebagai balasan dari apa yang mereka lakukan.
Para sahabat memahami ayat ini dengan sangat dalam. Abu Bakar menjelaskan bahwa orang yang istiqomah adalah mereka yang tidak menyimpang dari keimanan dan tidak pernah menyekutukan Allah. Sementara Umar bin Khattab menggambarkannya sebagai orang yang terus taat tanpa berbelok sedikit pun, tidak seperti serigala yang berputar-putar. Ini bukan sekadar teori, tapi standar hidup yang jelas.
Istiqomah sendiri bukan cuma soal rajin ibadah, tapi tentang konsisten di jalan yang lurus. Seorang ulama seperti Ibn Rajab menjelaskan bahwa istiqomah berarti menjalani agama dengan lurus, tanpa condong ke kanan atau kiri, menjalankan semua perintah, dan meninggalkan semua larangan, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi.
Kalau ditarik ke kehidupan sehari-hari, sebenarnya simpel. Kita diciptakan untuk shalat, zikir, berdoa, berbakti kepada orang tua, jujur, amanah, dan membela kebenaran. Sementara makan, tidur, olahraga, itu hanya pelengkap hidup. Masalahnya, sering kali justru yang pelengkap ini malah jadi fokus utama, sampai tujuan hidup yang sebenarnya jadi kalah.
Salah satu contoh paling nyata dari istiqomah adalah kejujuran. Nabi Muhammad mengingatkan bahwa kejujuran akan membawa pada kebaikan, dan kebaikan akan mengantarkan ke surga.
Sebaliknya, kebohongan membawa ke kerusakan, dan kerusakan membawa ke neraka. Orang yang terus jujur akan dicatat sebagai orang yang jujur, dan yang terus berdusta akan dicatat sebagai pendusta. Ini bukan sekadar label, tapi konsekuensi dari kebiasaan.
Masalahnya, kebohongan itu efeknya besar sekali. Satu kebohongan bisa menghapus kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun. Ibarat setetes racun di satu gentong susu, semuanya bisa rusak hanya karena satu kesalahan. Karena itu, istiqomah butuh komitmen kuat: yang benar tetap benar, yang salah tetap salah, apa pun risikonya.
Hal yang sama juga berlaku untuk amanah. Sekali seseorang dipercaya, maka dia harus menjaganya. Orang yang menjaga amanah akan dikenal baik di tengah masyarakat. Sebaliknya, pengkhianatan akan meninggalkan bekas buruk, bukan hanya di dunia, tapi juga di akhirat. Bahkan Nabi menyebutkan tanda orang munafik itu ada pada tiga hal: kalau bicara dia bohong, kalau diberi amanah dia khianat, dan kalau berjanji dia ingkar.
Dalam kehidupan sehari-hari, ujian istiqomah itu nyata. Kadang kita tahu yang benar, tapi tetap tergoda untuk melenceng. Bisa karena lingkungan, bisa karena hawa nafsu, atau karena kita sendiri yang menunda-nunda kebaikan. Padahal waktu dan kesehatan adalah nikmat yang sering kita abaikan.
Ada juga fase di mana iman naik turun. Ini wajar. Nabi sendiri menjelaskan bahwa setiap orang punya masa semangat dan masa lemah. Tapi yang penting, saat lemah pun kita tetap berada di jalur yang benar, bukan malah keluar dari jalan itu.
Gangguan terbesar datang dari dua arah: dari luar dan dari dalam. Dari luar, ada godaan setan yang tidak pernah berhenti menggoda manusia dari segala arah. Tapi sebenarnya setan itu lemah, dia hanya membisikkan. Dari dalam, ada dorongan jiwa yang cenderung pada keburukan. Tinggal kita mau mengikuti yang mana.
Selain itu, ada juga kebiasaan buruk yang bisa menjauhkan dari istiqomah, seperti suka berdebat padahal salah, menunda amal baik, dan memilih lingkungan yang tidak mendukung. Semua ini pelan-pelan bisa menggeser seseorang dari jalan yang lurus.
Karena itu, penting sekali untuk terus menjaga hati. Nabi bahkan sering berdoa agar hatinya diteguhkan. Padahal beliau adalah manusia terbaik. Ini menunjukkan bahwa hati manusia memang mudah berubah dan butuh terus dijaga.
Sederhananya, istiqomah itu bukan soal jadi sempurna, tapi soal terus berusaha tetap di jalur yang benar. Kadang kita jatuh, kadang lemah, tapi selama kita kembali lagi ke jalan yang benar, itu yang penting.
Hidup ini bukan tentang siapa yang paling cepat, tapi siapa yang paling konsisten sampai akhir. Dan, istiqomah adalah kunci agar kita bisa sampai ke tujuan itu dengan selamat.***
Referensi: https://youtu.be/7YKRoVHbE7A?si=ZCw3a4ir33ARIPhe
Foto: Freepik



