KORANINDONESIA – Setiap memperingati Hari Anak Nasional, kita banyak berbicara tentang pendidikan, kesehatan, perlindungan, dan masa depan anak. Namun, masih ada satu kebutuhan mendasar yang kerap dipandang sebelah mata, yaitu kesempatan untuk bermain. Sebagai orang tua, kita mungkin pernah berkata, “Selesaikan tugas dulu, baru boleh bermain” atau “Kalau masih ada waktu, nanti kamu boleh main.” Tanpa disadari, aktivitas ini sering ditempatkan sebagai hadiah setelah seluruh kewajiban selesai.
Padahal, bermain bukan hadiah. Bermain merupakan hak sekaligus kebutuhan setiap anak. Konvensi Hak Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa bahkan menegaskannya sebagai salah satu hak dasar yang harus dipenuhi. Garry Landreth, salah satu tokoh penting dalam terapi bermain, pernah mengatakan, “Birds fly, fish swim, and children play”. Kalimat sederhana itu menggambarkan bahwa bermain merupakan cara alami anak mengenal diri, memahami dunia, dan bertumbuh.
Anak Belajar melalui Bermain
Bagi orang dewasa, bermain mungkin tampak sebagai kegiatan biasa. Namun, bagi anak, justru di sanalah berlangsung berbagai proses belajar yang penting. Ketika membuat slime dan hasilnya tidak sesuai harapan, ia belajar mencoba kembali. Saat menara balok yang disusunnya roboh, ia belajar menghadapi kekecewaan sekaligus membangunnya lagi. Ketika bermain masak-masakan atau dokter-dokteran, ia berlatih memahami sudut pandang orang lain. Interaksi bersama teman juga menghadirkan pelajaran yang tidak kalah berharga. Anak belajar menunggu giliran, berbagi, bernegosiasi, menerima kekalahan, menyelesaikan konflik, lalu kembali berteman setelah berselisih. Pengalaman-pengalaman sederhana tersebut membentuk kreativitas, empati, kemampuan memecahkan masalah, serta ketangguhan dalam menghadapi tantangan.
American Academy of Pediatrics menyebutkan bahwa bermain mendukung perkembangan bahasa, kemampuan berpikir, keterampilan sosial dan emosional, serta kemampuan anak menghadapi stres. Sebagai seorang ibu, saya pun menyadari bahwa orang tua sering kali terlalu cepat mengambil alih. Ketika bangunan balok roboh, kita ingin segera memperbaikinya. Saat anak belum mengetahui cara memainkan sesuatu, kita buru-buru memberi contoh. Padahal, ada saatnya mereka perlu diberi ruang untuk berpikir, mencoba, gagal, lalu menemukan caranya sendiri. Tentu saja orang tua tetap hadir untuk menjaga keamanan. Namun, tidak setiap kesulitan harus langsung diselesaikan. Dari pengalaman itu, anak belajar berkata kepada dirinya sendiri, “Aku memang belum bisa, tetapi aku dapat mencoba lagi.”
Bermain Membantu Anak Memahami Perasaannya
Anak belum selalu mampu mengungkapkan, “Aku cemas karena ada perubahan di rumah” atau “Aku marah karena merasa tidak punya kendali”. Perasaan-perasaan tersebut lebih sering muncul melalui gambar, pasir, boneka, cerita, gerakan tubuh, maupun permainan pura-pura. Bagi mereka, bermain menjadi bahasa yang membantu menyampaikan pengalaman ketika kata-kata belum mampu mewakilinya.
Dalam salah satu proses terapi yang pernah saya dampingi—dengan beberapa detail disamarkan untuk menjaga kerahasiaan—ada seorang anak berusia sembilan tahun yang sangat takut pergi ke dokter. Di ruang terapi, ia berulang kali bermain dokter-dokteran. Sambil memeriksa boneka, ia berkata, “Jangan takut, ya. Kita periksa dulu semuanya.” Beberapa waktu kemudian, orang tuanya bercerita bahwa anak tersebut menjadi lebih berani ketika harus menerima vaksin. Melalui permainan itu, ia seolah mengulang pengalaman yang menakutkan dalam situasi yang lebih aman. Ia dapat memilih peran, mengatur alur cerita, dan membayangkan akhir yang berbeda. Perlahan-lahan tumbuh keyakinan, “Aku bisa menghadapi ini.”
Pengalaman tersebut memungkinkan anak mendekati situasi yang sulit sedikit demi sedikit. Ketika terasa terlalu berat, ia dapat berhenti. Saat sudah siap, ia dapat mencobanya kembali. Dengan didampingi orang dewasa yang tenang dan tidak menghakimi, pengalaman yang semula terasa kacau perlahan menjadi lebih mudah dipahami. Anak bukan sekadar mengekspresikan emosi, melainkan juga belajar mengenali serta mengelolanya.
Tidak Harus Menggunakan Mainan Mahal
Bermain tidak selalu membutuhkan mainan mahal atau tempat khusus. Kotak kardus dapat berubah menjadi rumah, mobil, atau pesawat luar angkasa. Kain dapat menjadi jubah pahlawan. Ranting, batu, tanah, air, boneka, kertas, dan pensil pun mampu membuka dunia imajinasi yang begitu luas. Nilai sebuah permainan tidak ditentukan oleh harga mainannya, melainkan oleh ruang yang diberikan kepada anak untuk bereksplorasi. Mereka membutuhkan waktu, rasa aman, kebebasan memilih, serta kehadiran orang dewasa yang bersedia mendampingi.
Sering kali, yang paling dibutuhkan bukan tambahan mainan, melainkan kehadiran orang tua. Kehadiran itu tampak ketika mereka bersedia duduk di lantai, mengikuti alur permainan anak, tanpa memegang telepon genggam, tanpa mengoreksi, dan tanpa tergesa-gesa mengajarkan sesuatu. Penelitian mengenai play deprivation juga mengingatkan bahwa anak yang jarang memperoleh kesempatan bermain secara bebas kehilangan banyak peluang untuk berlatih mengelola emosi, mengendalikan diri, beradaptasi, dan membangun hubungan sosial.
Oleh karena itu, kesempatan bermain seharusnya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Guru dapat menyediakan waktu bermain bebas di sekolah. Dokter dan tenaga kesehatan dapat menanyakan kebiasaan bermain sebagaimana mereka menanyakan pola tidur dan pola makan. Orang tua pun dapat menyediakan waktu ketika anak diberi kesempatan memimpin permainan.
Bermain layak menjadi bagian dari “resep” tumbuh kembang setiap anak.
Ketika Bermain Menjadi Jalan Terapi
Bermain dalam kehidupan sehari-hari memiliki peran yang sangat penting. Namun, tidak semua kesulitan dapat diatasi hanya dengan menambah waktu bermain. Sebagian anak membawa kecemasan, kesedihan, kehilangan, pengalaman perundungan, konflik keluarga, ledakan emosi, rasa rendah diri, atau pengalaman lain yang belum sanggup mereka ceritakan. Dalam situasi seperti ini, mereka mungkin membutuhkan pendampingan yang lebih terarah melalui play therapy atau terapi bermain.
Play therapy bukan sekadar membiarkan anak bermain sesuka hati. Pendekatan ini merupakan proses terapi yang memiliki tujuan jelas dan dilakukan oleh terapis yang telah memperoleh pelatihan khusus. Dalam proses tersebut, permainan menjadi sarana komunikasi. Terapis mengamati pilihan permainan, tema cerita yang berulang, serta cara anak mendekati, menghindari, membangun, merusak, menang, maupun kalah. Semua itu membantu memahami pengalaman batin yang belum mampu diungkapkan melalui kata-kata.
Namun, terapis tidak terburu-buru memberikan penafsiran atas setiap perilaku. Hal-hal yang dihadirkan terlebih dahulu adalah penerimaan, empati, dan batas yang aman. Dengan cara itulah anak memperoleh pengalaman baru: didengar tanpa diinterogasi dan diterima tanpa dihakimi.
Perubahan yang terjadi bukan semata-mata karena permainan atau mainan yang digunakan. Yang paling berperan justru hubungan yang aman, hangat, dan konsisten antara anak dan terapis.
Ketika belum mampu menenangkan dirinya sendiri, anak dapat “meminjam” ketenangan orang dewasa. Proses ini dikenal sebagai co-regulation. Setelah berulang kali didampingi menghadapi emosi yang besar, perlahan-lahan ia belajar menenangkan sekaligus mengatur dirinya sendiri.
Berbagai penelitian menunjukkan efektivitas pendekatan ini. Meta-analisis Bratton, Ray, Rhine, dan Jones terhadap 93 penelitian menemukan bahwa play therapy memberikan manfaat bagi berbagai kesulitan emosi maupun perilaku anak. Dampaknya bahkan lebih besar ketika orang tua turut dilibatkan dalam proses terapi. Di Indonesia, buku Terapi Bermain Indonesia: Pendekatan Non-Direktif dan Integratif-Holistik pada Anak dan Remaja melaporkan analisis terhadap 555 catatan Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ). Hasilnya menunjukkan bahwa hampir delapan dari sepuluh anak yang dirujuk mengalami peningkatan kesehatan mental dan kesejahteraan setelah mengikuti terapi bermain.
Orang Tua sebagai Agen Perubahan
Selain play therapy, di Mindfulness Bandung kami juga mendampingi keluarga melalui Filial Play Coaching. Jika dalam play therapy terapis bekerja langsung bersama anak, dalam filial play orang tua dibimbing agar menjadi agen perubahan utama dalam hubungan dengan buah hati mereka. Melalui pendampingan ini, orang tua belajar menyelenggarakan special playtime secara teratur. Pada waktu khusus tersebut, anak diberi kesempatan memimpin permainan. Orang tua berlatih mengikuti alur yang dipilih anak, mendengarkan dengan penuh perhatian, memahami perasaannya, memberikan pilihan, serta menetapkan batas secara hangat dan konsisten. Tujuannya bukan menjadikan orang tua sebagai terapis profesional. Pendekatan ini membantu mereka membangun hubungan yang lebih terapeutik dalam kehidupan sehari-hari.
Kita tentu sangat mencintai anak-anak. Namun, rutinitas sering kali dipenuhi berbagai instruksi.
“Cepat mandi.”
“Kerjakan tugas.”
“Jangan berantakan.”
“Sudah, jangan menangis.”
Dalam special playtime, anak justru menerima pesan yang berbeda.
“Aku punya waktu untukmu.”
“Aku ingin memahami duniamu.”
“Perasaanmu boleh dirasakan, meskipun tidak semua perilaku boleh dilakukan.”
Pengalaman sederhana yang dilakukan secara berulang perlahan membangun rasa aman dan kedekatan. Orang tua menjadi lebih peka melihat kebutuhan di balik perilaku anak, sementara anak merasa dipahami, bukan sekadar diatur.
Bermainlah Hari Ini
Sebagai ibu sekaligus Certified Play Therapist, saya percaya bahwa tumbuh kembang anak tidak hanya ditopang oleh sekolah yang baik, makanan bergizi, atau berbagai kegiatan tambahan. Mereka juga memerlukan ruang untuk bermain, kehadiran orang dewasa yang mau mendengarkan, serta hubungan yang menghadirkan rasa aman. Pada Hari Anak Nasional ini, mari mengembalikan bermain ke tempat yang semestinya: di rumah, di sekolah, di layanan kesehatan, dan—ketika diperlukan—di ruang terapi.
Kita tidak perlu menunggu memiliki waktu luang yang panjang atau mainan yang sempurna. Beberapa menit yang dihabiskan untuk duduk bersama anak, mengikuti alur permainannya, mendengarkan ceritanya, dan memasuki dunianya dapat menjadi investasi yang sangat berarti bagi kesehatan mental dan perkembangan mereka. Mungkin sudah saatnya setiap orang tua, guru, dan tenaga kesehatan kembali mengingat satu resep sederhana yang terlalu lama kita abaikan.
Bermainlah hari ini.

Penulis: Livita Chandra, BSN
Certified Play Therapist dan Founder Mindfulness Bandung



