Dya Loretta di Indonesia Fashion Week 2026: Perempuan Bisa Tetap Stylish, Fresh, Fit, Berdaya dan Berdampak

Bagikan

Founder Srikandi Pintar Indonesia Dorong Perempuan Terus Belajar, Berkarya, dan Memberdayakan Sesama

 

KORANINDONESIA, Jakarta – Menjadi perempuan masa kini bukan sekadar tentang bagaimana terlihat menarik, tetapi bagaimana mampu menjaga keseimbangan antara kesehatan, pengetahuan, kepercayaan diri, karier, keluarga, dan kontribusi kepada masyarakat. Pesan tersebut menjadi salah satu semangat yang dibawa Dr.(c) RA. Loretta Kartikasari, SE., MM., M.I.Kom., PhD.C atau Dya Loretta, dalam talkshow “Woman’s in Vogue: Stay Stylish, Fresh & Fit” pada rangkaian Indonesia Fashion Week 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC).

Tampil dalam Creative Stage Indonesia Fashion Week, Dya Loretta hadir bersama Liya dari Lembaga Komite Sekolah Nasional dan Sari Ahya dari Lions Club Jakarta Cosmopolitan. Talkshow juga dipadukan dengan fashion show karya Batik Riana Kesuma.

Bagi Dya, panggung fashion kali ini memiliki makna lebih luas. Fashion menjadi pintu masuk untuk berbicara mengenai perempuan, kepercayaan diri, kesehatan, pendidikan, kompetensi, hingga bagaimana perempuan dapat terus relevan dan produktif pada setiap fase kehidupannya.

Dari “Tampil Cantik” Menuju Perempuan yang Berdaya

Sebagai Founder Srikandi Pintar Indonesia, Dya Loretta selama ini banyak bergerak dalam pendidikan, pelatihan, pengembangan kompetensi, dan pemberdayaan masyarakat.

Menurut Dya, konsep stylish, fresh and fit tidak semestinya diterjemahkan hanya sebagai penampilan fisik.

Stylish dapat dimaknai sebagai kemampuan perempuan mengenali dan menampilkan identitas dirinya. Fresh berarti memiliki pikiran yang terbuka terhadap pengetahuan dan perubahan. Sedangkan fit tidak hanya menyangkut kesehatan fisik, tetapi juga kesiapan mental untuk menjalani berbagai peran dalam kehidupan.

“Perempuan boleh fashionable, tetapi jangan berhenti pada penampilan. Kita perlu terus mengisi diri dengan pengetahuan, keterampilan, pengalaman, dan kepedulian. Bagi saya, perempuan yang keren adalah perempuan yang terus bertumbuh dan ketika dirinya sudah bertumbuh, ia ikut menumbuhkan perempuan lainnya,” ungkap Dya Loretta.

Prinsip tersebut pula yang melatarbelakangi kehadiran Srikandi Pintar Indonesia, yang dikembangkan Dya sebagai wadah peningkatan kapasitas dan kompetensi perempuan.

Belajar Tidak Mengenal Usia

Perjalanan Dya sendiri mencerminkan pesan yang disampaikannya.

Di tengah aktivitasnya sebagai dosen Universitas Mercu Buana, peneliti, entrepreneur, penulis, trainer, dan aktivis sosial, Dya terus melanjutkan pendidikan serta meningkatkan kompetensi profesionalnya.

Ia menempuh pendidikan doktoral dalam bidang Ilmu Komunikasi di Malaysia dan menjadi kandidat doktor bidang Ilmu Manajemen di Indonesia. Dya juga mengantongi belasan sertifikasi kompetensi dan profesi.

Baginya, gelar dan sertifikasi bukan sekadar tambahan di belakang nama. Semuanya merupakan bagian dari semangat lifelong learning—bahwa perempuan perlu terus memperbarui kemampuan agar mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.

Dya juga telah menulis belasan buku yang banyak mengangkat bidang literasi digital, komunikasi, pemasaran, dan personal branding.

“Tidak ada kata terlambat bagi perempuan untuk belajar. Usia bertambah, tetapi kompetensi juga harus bertambah. Dunia berubah sangat cepat. Karena itu, perempuan perlu terus belajar supaya tidak hanya mampu mengikuti perubahan, tetapi juga menjadi bagian yang menciptakan perubahan,” katanya.

Membangun Ekosistem Perempuan melalui Pendidikan

Komitmen tersebut tidak berhenti pada perjalanan pribadinya.

Sebagai entrepreneur, Dya mendirikan sejumlah lembaga pendidikan dan pelatihan, antara lain Srikandi Pintar, Marcommads.id, Sakti Wiyata, dan Belajarsamakami.id. Ia juga mendirikan NGO Srikandi Berdaya sebagai bagian dari komitmennya terhadap pemberdayaan masyarakat.

Melalui berbagai wadah tersebut, pendidikan diposisikan bukan hanya sebagai proses memperoleh pengetahuan, melainkan sebagai instrumen untuk membangun kemandirian.

Menurut Dya, perempuan yang memiliki keterampilan dan kompetensi akan memiliki pilihan yang lebih luas dalam menentukan masa depannya—baik sebagai profesional, entrepreneur, akademisi, ibu, maupun penggerak sosial.

Dari Kompetensi Menuju Pengabdian

Di luar dunia pendidikan dan entrepreneurship, Dya Loretta juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial.

Ia menjabat sebagai Ketua Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS) dan Sekretaris Jenderal Lions Club Jakarta Cosmopolitan. Sebelumnya, Dya juga pernah dipercaya menjadi tenaga ahli di beberapa kementerian.

Posisinya sebagai Sekjen Lions Club Jakarta Cosmopolitan memberikan perspektif lain dalam perjalanan profesionalnya: bahwa kompetensi pada akhirnya perlu dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk pelayanan.

Semangat “We Serve” menurutnya memiliki keterkaitan erat dengan pemberdayaan perempuan.

“Kesuksesan bukan hanya tentang seberapa tinggi kita bisa berdiri. Ada fase ketika kita harus bertanya: setelah semua yang kita pelajari dan kita miliki, berapa banyak orang yang bisa kita bantu untuk ikut berdiri?”

Karena itu, bagi Dya, pendidikan, entrepreneurship, dan kegiatan sosial bukanlah tiga dunia yang terpisah. Ketiganya dapat membentuk sebuah ekosistem: belajar untuk meningkatkan kapasitas diri, berkarya untuk mencapai kemandirian, kemudian berbagi untuk memberikan dampak.

Fashion sebagai Bahasa Kepercayaan Diri

Kehadiran talkshow di tengah Indonesia Fashion Week juga memberikan pesan bahwa fashion dapat menjadi bagian dari proses perempuan membangun identitas dan kepercayaan dirinya.

Busana bukan semata-mata persoalan mengikuti tren. Cara seseorang berpenampilan dapat menjadi bentuk komunikasi tentang siapa dirinya, budaya yang dibawanya, serta bagaimana ia ingin hadir di tengah masyarakat.

Namun Dya mengingatkan bahwa kepercayaan diri yang kuat harus tumbuh dari dalam.

“Fashion membuat kita terlihat. Tetapi pengetahuan membuat kita didengar, kompetensi membuat kita dipercaya, dan kepedulian membuat keberadaan kita memiliki arti.”

Pesan tersebut menjadi relevan di tengah industri fashion yang terus berkembang. Perempuan bukan hanya konsumen dalam industri tersebut, tetapi juga desainer, entrepreneur, pekerja kreatif, komunikator, pemimpin komunitas, hingga penggerak ekonomi.

Perempuan yang Bertumbuh dan Menumbuhkan

Melalui “Woman’s in Vogue: Stay Stylish, Fresh & Fit”, panggung Indonesia Fashion Week menjadi ruang untuk melihat perempuan secara lebih utuh.

Perempuan dapat mencintai fashion sekaligus mencintai pendidikan. Perempuan dapat membangun karier sekaligus mengabdi kepada masyarakat. Perempuan dapat menjadi entrepreneur sekaligus membuka kesempatan bagi orang lain.

Bagi Dya Loretta, itulah wajah perempuan modern yang ingin terus didorong melalui Srikandi Pintar Indonesia dan berbagai aktivitas sosial yang dijalaninya.

Ia berharap semakin banyak perempuan Indonesia berani keluar dari keraguan, meningkatkan kompetensi, membangun jejaring, serta saling mendukung tanpa harus saling berkompetisi secara tidak sehat.

“Jangan takut menjadi perempuan yang punya banyak mimpi. Terus belajar, tetap sehat, rawat diri, bangun kompetensi, dan jangan lupa membawa perempuan lain bertumbuh bersama kita. Karena perempuan berdaya bukan hanya perempuan yang berhasil untuk dirinya sendiri, tetapi perempuan yang keberadaannya membuat orang lain ikut memiliki kesempatan untuk berhasil.”

Pada akhirnya, makna “Stay Stylish, Fresh & Fit” menjadi lebih dari sekadar tema sebuah talkshow.

Tetaplah stylish dalam membawa identitas diri. Tetap fresh dalam pemikiran dan semangat belajar. Tetap fit untuk menjalani setiap peran. Dan yang terpenting, tetaplah menjadi perempuan yang berdaya—karena ketika satu perempuan bertumbuh, ia memiliki kekuatan untuk menumbuhkan keluarga, komunitas, bahkan generasi berikutnya.

 

Scroll to Top