Tak Hanya Warisan Harta, Ini Cara Membangun Literasi Finansial Pada Anak

Bagikan

Oleh : Albertus Wiroyo

Pelajaran tentang uang dan tanggung jawab tidak diberikan dalam satu percakapan besar.

Orang tua dapat mengenalkannya secara bertahap, mulai dari pilihan sederhana saat anak masih kecil hingga keputusan finansial yang lebih kompleks ketika mereka dewasa.

Anak tidak langsung memahami uang ketika pertama kali menerima penghasilan atau aset.

Baca Juga: Parents Bisa Pantau Chat WhatsApp Anak dengan Fitur Kontrol Khusus, Begini Caranya

Pemahaman itu tumbuh dari pengalaman sehari-hari, mulai dari memilih cara menggunakan uang saku, menabung untuk sesuatu yang diinginkan, melihat orang tua menentukan prioritas, hingga perlahan ikut dalam percakapan keluarga yang lebih besar.

Pendekatan bertahap ini relevan dengan temuan Indonesia dalam Studi Sun Life Asia 2026, Meneruskan Warisan: Ketika Warisan Lebih dari Sekadar Kekayaan.

Dari 506 responden Indonesia, kesempatan pendidikan dan kekayaan sama-sama masuk dalam tiga prioritas warisan teratas bagi 65% responden, sedangkan tradisi keluarga dipilih oleh 47%.

Data tersebut memperlihatkan bahwa bekal untuk generasi berikutnya dapat mulai dibangun jauh sebelum aset diwariskan secara formal.

Baca Juga: Moms Mau Tahu Resep Chicken Katsu yang Renyah dan Gurih? Yuk Bikin Sendiri di Rumah

1. Usia sekolah dasar: Kenalkan pilihan sederhana

Uang saku dapat menjadi alat belajar pertama bagi anak.

Ajak anak membaginya untuk kebutuhan, tabungan, dan berbagi.

Alih-alih hanya mengatakan “jangan boros”, bantu mereka memahami bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi dan uang dapat digunakan untuk tujuan yang berbeda.

2. Menjelang remaja: Ajak membuat tujuan

Ketika anak mulai memiliki keinginan yang lebih besar, ajak mereka menentukan target dan waktu menabung.

Di tahap ini, pendidikan finansial dapat dikaitkan dengan tujuan nyata, seperti membeli buku, perangkat belajar, mengikuti kegiatan, atau mendapatkan pengalaman yang ingin mereka capai, agar konsep perencanaan terasa dekat.

Baca Juga: Kisah Nadine, Putri Driver Taksi Online Lulus Sarjana UI dari Beasiswa GrabSchoolar

3. Masa remaja: Buka cerita di balik kondisi keluarga

Remaja mulai mampu memahami bahwa kondisi finansial keluarga dibangun melalui proses.

Ceritakan bagaimana keluarga melewati masa sulit, memperbaiki keputusan, atau membangun usaha dan karier.

Pengalaman nyata membuat nilai kerja keras, kehati-hatian, dan tanggung jawab terasa lebih konkret.

4. Menjelang dewasa: Kenalkan risiko dan fondasi finansial

Saat anak mulai memahami pendapatan, biaya pendidikan, atau rencana karier, keluarga dapat mengenalkan pentingnya arus kas, dana darurat, tabungan, investasi sesuai tujuan dan profil risiko, serta perlindungan yang sesuai kebutuhan.

Fokusnya bukan menawarkan solusi tertentu, melainkan menunjukkan bahwa setiap rencana perlu mempertimbangkan kemungkinan perubahan.

Baca Juga: Asap Karhutla Masuk Jakarta, Ini 7 Cara Lindungi Anak agar Tetap Aman

5. Dewasa muda: Libatkan dalam percakapan keluarga

Ketika anak telah memiliki penghasilan atau tanggung jawab sendiri, percakapan dapat berkembang ke karier, investasi, aset keluarga, dan peran antargenerasi.

Tidak semua detail perlu dibuka sekaligus, tetapi keterlibatan yang bertahap membantu mereka memahami konteks sebelum suatu hari menerima tanggung jawab yang lebih besar.

Pada akhirnya, mengajarkan legacy bukanlah satu percakapan tentang warisan, melainkan rangkaian kebiasaan yang tumbuh bersama usia anak.

Rumah, uang, dan bisnis dapat diwariskan dalam satu waktu.

Namun, cara seorang anak memahami tanggung jawab dan menjalani hidup dibangun sedikit demi sedikit, setiap hari.

Baca Juga: Digimap Rayakan Kehadiran iPhone 18 Pro Series di Indonesia Gandeng Amanda Mitsuri, Begini Kisahnya

Catatan Metodologi

Studi Sun Life Asia 2026, Meneruskan Warisan: Ketika Warisan Lebih dari Sekadar Kekayaan, melibatkan 506 responden di Indonesia.

Beberapa temuan menggunakan basis responden tertentu sebagaimana dijelaskan dalam metodologi studi.

Disclaimer

Artikel ini disusun untuk tujuan edukasi dan informasi umum, bukan merupakan nasihat keuangan, investasi, hukum, atau perpajakan.

Setiap keputusan perlu disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi finansial, profil risiko, serta ketentuan yang berlaku.

Manfaat produk asuransi, apabila disebutkan, mengikuti syarat dan ketentuan polis.

Scroll to Top